Jejak Legenda di Negeri Naga

Catatan: Iranda Novandi
TAPAKTUAN, adalah negeri yang penuh dengan jejak legenda. Mistis dengan segala mitosnya. Namun sangat dipercaya oleh masyarakat setempat. Tapaktuan merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Selatan, yang posisi kotanya berhadapan dengan lautan Samudera Hindia.

Aceh Selatan ini berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut yang membuatnya beriklim tropis basah. Kota Tapaktuan dengan luas 92,68 km² sangat layak bila dijadikan tujuan wisata bagi semua kalangan dan usia. Selain memiliki panorama alam yang indah, juga memiliki jejak legenda yang sangat terkenal.

Nama Tapaktuan, diambil dari nama Tuan Tapa yang merupakan seorang ulama tersohor. Sehari-hari Tuan Tapa hanya melakukan pertapaan dengan berzikir di sebuah Gua Kalam di daerah tersebut.

Konon, dari cerita yang telah turun temurun, Tuan Tapa memiliki tinggi badan mencapai 7 meter. Hal ini kiranya bisa dibuktikan dengan kuburan Tuan Tapa yang sampai saat ini masih dirawat dengan baik oleh masyarakat setempat.

Tuan Tapa yang bergelar Syech ini, di makamkan di Gampong (Desa) Hilir Kecamatan Tapaktuan, persisnya di depan Kantor Keuchik (Kades-red) di Jalan Abdullah Sani. Panjang makam ini kurang lebih 7 meter dengan lebar 1,5 meter. Makam ini dikelilingi dengan cangkang kerang yang berukuran besar. Tuan Tapa diceritakan meninggal pada Ramadan tahun 4 Hijriyah.

Makam Tuan Tapa. Foto dok h7 - Iranda Novandi
Makam Tuan Tapa. Foto dok h7 – Iranda Novandi

Makam Tuan Tapa ini selalu dikunjungi para peziarah. Rasanya memang tidak lengkap jika saat berkunjung ke Aceh Selatan, khususnya ke kota Tapaktuan bila tidak melakukan ziarah dan napaktilas dari jejak Tuan Tapa.

Dalam komplek makam Tuan Tapa ini terdapat juga satu makam Datok Radja Amat Djintan yang pernah memerintah di Tapaktuan tahun 1874 masehi dan meninggal tahun 1928 masehi. Sayangnya, penulis tidak bisa mengetahui lebih banyak tentang Datok Radja Amat Djintan ini. Karena, tidak ada satu wargapun yang bisa bercerita menyangkut siapa penguasa yang memerintah masa Hindia Belanda ini.

Dari makam Tuan Tapa ini, hanya berjarak sekitar satu kilometer, kita bisa melihat jejak kakinya yang terletak di bebatuan yang di kawasan Gunung Lampu. Untuk mencapai jejak kaki Tuan Tapa ini, harus mendaki perbukitan dengan rute yang telah dibuat pemerintah setempat. Sedikitnya ada 59 anak tangga. Setelah sampai dihujung perjalanan, dilanjutkan dengan melintasi bebatuan yang berserakan dengan cara mendaki sekitar 500 meter.

Konon, bebatuan itu merupakan ceceran tubuh naga jantan yang berhasil ditaklukan Tuan Tapa. Pertarungan Tuan Tapa dengan dua naga (jantan dan betina) ini terjadi, karena Naga Jantan tidak bersedia mengembalikan anak perempuan yang sudah dirawatnya dari sejak bayi. Bayi perempuan itu ditemukan kedua naga tersebut di lautan. Dari berbagai catatan sejarah dan legenda, anak perempuan yang diberi nama Putri Bungsu itu merupakan anak dari raja kerajaan Kerajaan Asralanoka di India Selatan.

Dari cerita turun temurun masyarakat setempat, dua naga yang berdiam di kawasan tersebut berasal dari China (Tiongkok). Mereka diusir dari negerinya karena tidak memiliki anak. Namun, saat ke dua naga tersebut hendak kembali dengan membawa Putri Bungsu, di halangi Tuan Tapa hingga terjadi perkelahian hebat, yang konon sempat menghancurkan sebuah pulau besar hingga berkeping-keping berjumlah 99 pulau yang kini terdapat di kawasan Aceh Singkil. (Dulu, Aceh Singkil sebelum pemekaran merupakan bagian dari pemerintahan Aceh Selatan).

Ada beberapa hal yang perlu diingat dan betul-betul harus dipatuhi setiap orang yang berkunjung ke Tapak Tuan Tapa di bibir Samudera Hindia. Yakni jangan ria atau senang berlebihan. Jangan berbuat mesum atau maksiat serta pengunjung jangan takabur atau menganggap remeh. Sebab banyak kajadian aneh yang kerab terjadi bila melakukan hal tersebut, seperti secara tiba-tiba air laut naik ke permukaan bebatuan tersebut hingga bisa mengancam keselamatan jiwa.

Menurut warga setempat kepada penulis, saat berkunjung kesana, ada seorang anak remaja putri yang disambar gelombang hingga terjatuh ke laut dan tiga hari kemudian ditemukan tidak bernyawa.

Jejak kaki yang dipercayai masyarakat setempat sebagai tapak kaki Tuan Tapa foto dok h7 - Iranda Novandi
Jejak kaki yang dipercayai masyarakat setempat sebagai tapak kaki Tuan Tapa foto dok h7 – Iranda Novandi

Menurut warga setempat, hanya karena dua anak remaja kakak-adik ini begitu sampai ke Tapak Tuan Tapa sempat berujar “Ooh..Cuma begini tapaknya”. Seketika itu juga air laut naik dan merengut nyawa remaja putri tersebut. Makanya, siapapun yang berkunjung kesana, disarankan dipandu masyarakat setempat.

“Kejadian seperti ini sudah sering terjadi,” ujar bapak paroh baya yang sehari-hari berjualan di daerah Gunung Lampu tersebut. Pada saat penulis berkunjung kesana, air laut sempat naik dan menyiram para pengunjung yang asik berfoto ria sambil ketawa-ketawa tak menentu. Pada saat pengunjung meninggalkan lokasi, air lautpun kembali tenang seperti semula.

Usai berkunjung ke Tapak Tuan Tapa, anda bisa melanjutkan pertualangan ke Kolam Pemandian Naga yang terletak di tengah kota Tapaktuan atau dengan dengan pendopo bupati Aceh Selatan yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari lokasi Tapak Tuan Tapa tadi.

Konon, menurut cerita, kolam pemandian ini merupakan tempat penjemputan Putri Bungsu oleh orang tuanya. Pemerintah setempat kolam ini dipugar dengan membuat reflika naga naga dengan mulut yang terbuka lebar. Menurut warga setempat kolam kecil tersebut airnya tidak penah kering, meski musim kemarau sekalipun.

Sungguh menarik bukan, banyak cerita dan legenda yang membumi disana. Jika anda mau liburan akhir pekan ini, tak salah jika berkunjung ke Tapaktuan.

Ayo tunggu apa lagi. Cepat buruan, rasakan sensasi liburan di negeri Tuan Tapa ini.[]

Facebook Comments
(Visited 64 times, 1 visits today)
156 views

Satu tanggapan untuk “Jejak Legenda di Negeri Naga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *