Jangan Jual Darah dari Aceh (in memoriam M Arief Rahman)

Catatan: Iranda Novandi

 MENANTI waktu sahur tadi, sambil membuka instagram, ada pesan tentang cerita 3 tahun lalu. Dan pesan kenangan itu, ternyata tentang postingan ku pada 10 Mei 2017, yang bercerita kenangan duka akan kehilangan seorang abang, teman dan sahabat.

 Ingin rasanya menulis cerita ulang tentang mu. Tapi, entah mengapa terasa berat untuk memulai. Jadi teringan, aku penah menulis tentang kepergian mu di blog bukuiranda.wordpress.com.

 Maka, dihari ini, ijinkan ku posting kembali tulisan itu di halaman7.com ini dengan beberapa catatan tambahan tentunya. Berikut tulisan yang dikutip penuh dari blog tersebut:

BANG…

Tulisan ini sengaja ku tulis setelah beberapa hari kepergian mu menghadap Illahirabi. Bisa jadi disaat nanti orang-orang atau teman dan sahabat mu mulai lupa. Setidaknya, tulisan ini kembali mengingatkan betapa banyaknya catatan tentang kita.

Waktu yang berjalan, kita sering sejalan dalam banyak hal. Baik cerita suka maupun cerita duka. Betapa masih teringat dalam memori ini, saat kita harus membelah malam di tengah hutan di pedalaman Gayo Lues.

Saat itu, hujan sangat deras. Kita (aku bersama Zairin waspada dan abang) mencoba menerobos hujan di tengah malam dari ise-ise (perbatasan Aceh Tengah dan Gayo Lues), menuju Blangkejeren.

Di tengah hutan yang gelap gulita ditambah hujan yang menguyur dengan derasnya, memaksa mata kita untuk tetap terbuka lebar, mengingat jarak pandang yang bisa kita lihat hanya satu meter ke depan.

Dalam mobil rental warna hitam itu, mata kita terbuka lebar, tidak ada canda dan tawa, seperti saat kita melintasi Beutong Ateuh dari Nagan Raya menuju Takengon, Aceh Tengah. Di puncak Singah Mata, kita sempat istirahat dan menikmati indahnya alam sambil berfoto ria.

Namun, saat waktu merambah malam, kita melintasi hutan di pedalaman Aceh itu. Dan tragisnya, ban mobil yang kita naiki pecah, karena tajamnya bebatuan lintas tengah Aceh dari Tekengon menuju Blangkejeren tersebut.

Suasana yang gelap gulita dan tak ada penerangan, abangpun turun dan membuka baju untuk ikut membantu Jufri (supir mobil rental) dan dengan alat penerangan seadanya, kita ganti ban mobil tersebut. Sepintas, lokasi tersebut memang sangat sepi dan menyeramkan.

Akibat pecahnya ban mobil itu membuat waktu istirahat kita menjadi tidak ada. Hanya sempat menghempaskan beberapa saat di kasur saat tiba dipenginapan, kitapun harus melanjutkan tugas memberikan pencerahan jurnalistik bagi para pelajar SMA di Gayo Lues.

Begitulah sedikit cerita duka kita diantara banyak cerita yang masih terekam dengan baik di benak ku. tapi, semua itu kita lalui dengan cerita dan penuh rasa senang dan ihklas, makanya tak ada beban diantara kita dalam menjalaninya.

Oh ya Bang, pasti masih ingat dengan Nama Shella Othary Gunawan, salah satu perserta terbaik dalam pelatihan jurnalistik yang dibuat PWI Aceh dan Dinas Pendidikan di Benar Meriah. Nampaknya, ilmu abang diserapnya. Karena dia (Shella) kini pinter nulis lho Bang. Buktinya, dua tulisanya yang dimuat di halaman7.com ini, banyak pembacanya.

Ada seorang lagi peserta pelatihan jurnalistik dari Bener Meriah, cowok, kuliah di IAIN Cot Kala Langsa, kini dia malah jadi penulis cerpen dan novel. Sayang, namanya lupa. Sebelumnya saat aku masih aktif main facebook, dia masih sering konsultasi tentang cerpen dan novelnya.

Dalam cerita suka, banyak juga yang kita lalu. Mungkin abang masih ingat saat-saat indah dalam kebersamaan kita mengikuti Pekan Olahraga Wartawan (Porwanas) di Samarinda tahun 2012 atau saat Porwanas Bandung 2016.

Bayangkan saja, misi silaturrahmi yang kita bawa dari Kontingen Aceh membuat kita tetap ceria bersama. Meskipun abang berulang kali meminta pertandingan sepakbola melawan Bali di hentikan, karena kondisi sudah tak memungkinkan, hingga akhirnya abang terkapar karena kecapean di bawah mistar gawang dan kita minta pertadingan pun diakhiri. Akibatnya, terjadilah sedikit keributan itu.

Begitu juga saat Porwanas Bandung, meski kita sudah di bantai oleh Kalimantan Selatan (Kalsel) dan abangpun harus di keluarkan dari lapangan karena cidera berat, namun saat usai pertandingan futsal tersebut, kita masih bisa bercerita dan bercanda dengan teman-teman dari Kalsel, sambil menikmati bubur dan makanan lain yang dijual di lokasi pertandingan.

Bang..

Bila diingat-ingat, terlalu banyak kenangan yang kita ukir bersama. Betapa ingatnya aku, saat abang terus memompa semangat ku untuk membuat buku. Bahkan, kita telah berencana membuat buku bersama sebelum musibah gempa dan tsunami melanda Aceh. Sayangnya, semua catatan untuk buku itu hilang, bersama raibnya komputer ditelan tsunami.

Musibah itu menjadikan pembelajaran berharga tentunya. Karena niat kita membuat buku bersamapun sirna. Makanya, ini juga menjadi salah satu mengapa saya aktif ber-blog- ria saat ini. Hingga kita sudah lebih dari 365 Hari nge-Blog (prinsifnya one day one artikel), itung-itung bisa dijadikan buku nanti. (sayangnya, saat ini, nge-blog ini sudah hampir setahun tak pernah ku isi lagi Bang)

“Simpan tulisan mu di blog, selain untuk kepentingan dokumentasi, juga bisa berbagi cerita sama orang,” ujar mu, saat abang sibuk membuat blog baru untuk ikut lomba saat itu di Kantor PWI Aceh.

Oh ya Bang… cerita tentang buku, sebagai mana pesan abang, “Wartawan itu harus punya (karya) buku, karena buku itu karya jurnalistik yang abadi” begitu pesan mu kala itu. Kini buku ke dua ku yang berjudul “7 Alasan Mengapa Harus ke Banda Aceh” yang abang desain dan layout kini sudah bisa terbit sekitar (dua tahun lalu).

Waktu itu, sebenarnya ada sedikit perbaikan, namun aku tak tega meminta abang memperbaikinya, karena kondisi abang saat itu dalam kondisi sakit. Dan aku juga sangat berterimakasih, atas didikasi mu meng-layout buku “Gayo 6,2 SR” dan telah diterbitkan itu.

Saat membesuk alm Bang Ara di RS Kesdam, sebelum dirujuk ke RS Adam Malik, Medan

Bang…

Jujur, ku katakan. Banyak pelajaran yang kau tularkan, tentunya yang positif bagi ku dan satu yang tak akan pernah ku lupakan, saat kita disibukan membuat berita-berita berbau konflik dan kriminal di Aceh.

“Buatlah berita yang cerdas, jangan jual darah dari Aceh,” ujar mu. Pernyataan “Jangan jual darah dari Aceh” ini berulang kali kau sampaikan dalam berbagai kesempatan saat kita berdiskusi ataupun saat abang memberi materi jurnalistik bagi siapapun dalam berbagai pelatihan.

“Menjual darah” itu abang maknai, tak kala banyak wartawan baik di Aceh maupun dari Jakarta, yang baru meliput Aceh saat berdarah-darah. Aceh terus di ekplore seakan-akan hanya berita kriminal berdarah dan berbau kematian yang layak diberitakan dari Aceh.

“Banyak berita yang bisa kita sajikan, sudah cukup menderita Aceh dengan konflik dan jangan paksa konflik kembali datang ke Aceh,” ujar mu. Meskipun, pada dasarnya kita tak menapikkan untuk tetap memberitakan konflik itu sesuai fakta dan data. Tapi tidak mendramatisirnya hanya demi mencari makan.

Kecintaan mu untuk Aceh ini, sunggulah tinggi. Meskipun dalam tubuh mu tidak mengalir darah Aceh. Hanya karena abang mempersunting gadis Aceh asal Pidie dan menetap di Aceh, rasa empati dan peduli nasib Aceh ini sangatlah tinggi.

Bang..

Kini, kau telah mendahului kami semua. Hari itu, Rabu 10 Mei 2017, sekitar pukul 06.05 wib, aku menerima telpon dari Bang Ai (Azhari Barul) yang dulu bendahara PWI Aceh dan kini juga masih, dan mengabarkan kalau abang telah tiada saat masih dalam perawatan di RS Adam Malik, Medan.

Yayan Zamzami saat menyulang makan pada alhamrhum Bang Ara saat membesuk di RS Kesdam Banda Aceh

“Tolong sampaikan ke kawan-kawan di grup (WA), kalau Arief sudah tiada,” begitu suara Bang Ai terdengar dari seberang telepon selular. Mendapat kabar itu, sejenak aku tertunduk dan diam. Betapa, aku teringat masa-masa terakhir kita saat ku jenguk di RS Kesdam dan RSUZA Banda Aceh, saat abang dirawat di dua RS tersebut, sebelum akhirnya di rujuk ke RS Adam Malik, Medan, akibat tumor yang bersarang di paru-paru.

Innalillahi wainnailaihi raji’un….. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu…. Selamat jalan Bang dan sahabat ku Muhammad Arief Rahman. Semoga Allah memberimu Husnul Khatimah.[]

Tulisan ini sudah pernah di publikasi di bukuiranda.wordpress.com dengan judul yang sama.

Facebook Comments
(Visited 103 times, 1 visits today)
178 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *