Razia Balap Liar Berbuntut Pencemaran Institusi Polri

halaman7.com  Kutacane: Polres Aceh Tenggara sedang mendalami kasus pencemaran nama institusi Polri yang dilakukan warganet berinisial HP melalui media sosial facebook (FB).

Kasus ini berawal dari razia kepolisian yang dilakukan Polres Aceh Tenggara terhadap anak muda yang melalukan balapan liar pada Sabtu – Minggu, 25-26 April 2020 di depan Mapolres Aceh Tenggara.

Seorang yang terjaring razia yakni HP. Pria ini terjaring karena tak menggunakan helm dan tidak dilengkapi surat-surat kenderan. Karena tak terima sepeda motornya di tahan, HP mengunggah status di FB.

Kasus ini terus bergulir. Akhirnya Polisi Daerah (Polda) Aceh klarifikasi terkait persoalan sepeda motor yang dirampas paksa saat terjaring razia sebagaimana di ungkap HP.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Ery Apriyono SIK, Sabtu 2 Mei 2020 menjelaskan awalnya pihak Polres Agara mendapat laporan masyarakat dengan maraknya balap liar yang dilakukan sejumlah pemuda setelah usai shalat subuh pada Bulan Ramadhan di Jalan Protokol Ahmad Yani Kutacane.

“Menindaklanjuti laporan tersebut, Kapolres Agara AKBP Wanito Eko Sulistyo SIK mengeluarkan surat perintah dengan nomor: SPRIN/ 274/IV/OPS.1.1/2020 tertanggal pada 25 April 2020 lalu

Dalam razia dua hari itu, personel gabungan Polres Aceh Tenggara menertibkan 48 sepeda motor yang balap liar menggunakan knalpot racing atau bolong.

“Satu diantaranya milik HP yang ikut terjaring saat melakukan razia dan tidak membawa kelengkapan surat-surat kendaraan serta tidak menggunakan helm,” ujar Kombes Pol Ery.

Kesal dengan kejadian tersebut HP memposting hal tersebut di media sosial, FB. Selanjutnya, Rabu 29 April Polres Aceh Tenggara melalui satuan Intel menerbitkan Laporan Polisi dengan Nomor: LI/01/IV/ 2020 tertanggal 29 April 2020 tentang dugaan pencemaran nama baik Institusi di FB.

Dari laporan Sat Intel tersebut,  Satreskrim Polres Aceh Tenggara melakukan penyeledikan lebih lanjut.

“Setiap penegakan hukum tidak bisa memuaskan semua pihak, pihak pelanggar sudah pasti tidak puas. Pihak kita melakukan razia ini karena banyaknya pengaduan keluhan masyarakat yang kita terima,” ujar Kapolres Aceh Tenggara AKBP Wanito Eko Sulistyo SIK ketika dikonfirmasi terpisah.

Ia menambahkan, bahwa seharusnya dalam dalam situasi Pandemik Covid-19 seperti sekarang, semestinya masyarakat mengurangi aktifitas keluar rumah untuk hal-hal yang tidak diperlukan atau bahkan dapat merugikan diri sendiri.

Sementara HP menyebutkan kekecewaanya dikarenakan sepeda motornya dengan nomor polisi BL 3941 HM merk Honda tipe Scoopy ditangkap dikarenakan ia tidak memakai helm dan tidak membawa surat-surat kendaraan.

“Ketika saya menjemput kelengkapan surat-surat kendaraan dan kembali ke Mapolres Agara, sepeda motor saya malah ditahan dengan alasan sepeda motornya dijemput usai lebaran Idul Fitri.

“Bukankah seharusnya jika kesalahan saya karena tidak pakai helm itu diberikan surat tilang dengan menahan STNK atau SIM saya,” jelas HP.

“Pas kami tanya kenapa sepeda motor kami tidak bisa dibebaskan, pihak polisi malah diam,” ujarnya kesal.

Hingga saat ini kasus pencemaran nama baik institusi tersebut masih dalam proses penanganan Penyidik Polres Aceh Tenggara.[AKA | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *