Saksi Sempat Lunglai Habis Disumpah, Penghina IRT Dihukum Dua Bulan Percobaan

halaman7.comLangsa: Ibarat kata pepatah, “Langcang Mulut, Sesal Kemudian tak Berguna”. Begitulah yang dialami Khairul Azmi, yang terpaksa menerima hukuman percobaan 2 bulan dari hakim Pengadilan Negeri (PN) Langsa.

Hanya karena masalah sepele, karena lancangnya mulut Azmi yang menghina seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) warga Langsa, ia pun harus menerima vonis Hakim Tunggal Akhmad Fakhrizal  SH.

Kasus ini, sebelumya sempat mengendap setengah tahun, meskipun akhirnya PN Langsa memvonis terdakwa Khairul Azmi dalam kasus penghina Ibu Rumah Tangga (IRT) di Langsa ini, dengan hukuman dua bulan masa percobaan.

Sidang berlangsung hampir dua jam pada, Kamis 2 Juli 2020 dalam kasus pelanggaran pasal 315 KHUP tergolong gugatan Tipiring (Tindak Pidana Ringan) ini, sempat menarik perhatian pengunjung.

Penyebabnya, saksi Hilda Surya setelah bersumpah mendadak lunglai usai pengacara YARA Abd Muthalib Ibrahim memberondongnya dengan beberapa pertanyaan berkaitan dengan syariat keislamannya.

Anehnya lagi, setelah saksi dipapah dan dinaikkan ke kursi roda milik PN ini hingga ke luar ruangan, tiba-tiba suaranya mendadak menggelegar sambil menghujat pengacara yang dituduh menyudutkannya dalam persidangan.

Peristiwa pemakian terhadap korban IRT Nyonya NRK Gading warga Jalan Syiah Kuala, Lorong Senator Gampong Meutia, Langsa terjadi Rabu, 25 Desember 2019, pukul 07.56 Wib.

Ketika itu Nyonya Gading menyuruh Indratno, tukang bangunan, membuat tembok gantung di atas parit belakang bersisian dengan rumah kakak kandungnya, Hilda Surya. Kelanjutan pembuatan tembok ini selaras dengan design awal.

Pada saat itu, suara Khairul Azmi (48 tahun) tiba-tiba menggelegar memecahkan keheningan pagi. Dia melarangnnya hingga terjadi adu mulut dan tertuduh mengancam membobok serta memaki pengadu dengan kata-kata yang tidak pantas, jika bangunan dilanjutkan.

Padahal kata Nona, panggilan NRK Gading ini, jarak rumahnya dengan Azmi berselang dua rumah lainnya. “Kenapa Dia yang mencak-mencak?,” ujar Nona.

Azmi yang banyak menunduk itu dan sesekali senyum untuk menyembunyikan kekeliruannya serta banyak mengungkapkan persoalan di luar subtansi permasalahan yang tidak dipertanyakan. Saat itu pengacara YARA ini langsung memotong untuk kembali pada materi persoalan yang sedang dibahas.

Meskipun begitu, saat hakim membacakan butir-butir dalam BAP dia seperti tertunduk malu dan mengakui seluruh perkataan kotornya itu diucapkan spontan. Dia menyesalkan perbuatanya serta berjanji tidak mengulangi lagi tindakan seperti ini terhadap korban yang juga adik kandung dari mertuanya yang berdomisili satu lorong dengannya.

“Yang meringankan terdakwa belum belum pernah melakukan pelanggaran hokum,” jelas Hakim.[ans | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *