‌Adzan Yang Kurindukan

Oleh: Aji Setiawan

REMBULAN penuh di pertengahan bulan Syakban tahun Hijriah membuatku bangun malam dan kutatap langit sejenak. Tampak cahaya putih terang berselimut warna pelangi berpendar indah di angkasa.

Aji Setiawan

Kutepuk pahaku dengan keras, aku tidak sedang bermimpi. Cepat selepas itu, sembari setengah berlari kuambil air wudhu. Hening. Kuhadapkan wajahku ke kiblat. Allahu Akbar…Allahu Akbar…

Shalat adalah mikrajnya seorang mukmin dengan Sang Khalik, Pemilik semesta jagad raya. Ku adukan seluruh problem kehidupan pada-Nya. Selepas shalat Sunnah witir, sebagai penutup shalat sunnah, ku tengok pendora sang waktu lewat HP yang sedari pertengahan malam ku matikan.

Sebentar lagi Bulan Puasa. Puasa tahun ini, aku di kampung. Sudah seminggu jelang bulan puasa kali ini kuisi hampir seperti tahun kemarin. Di mana gegara Corona belum usai. Bencana pandemi jadi momok, tetap di rumah saja.

Banyak orang memilih tidak bepergian. Cuaca panas terik di siang hari. Bau polusi udara sudah membuat orang nyaman tinggal di rumah saja. Harga kebutuhan pokok mulai naik. Waktu hampir mendekati subuh. Udara dingin malam menyergap sekujur tubuh. Telapak tangan dan kaki semakin dingin.

Ku ambil air wudhu dan shalat sunnah berpergian. QS Qurais dan QS Al Kafirun dalam dua rakaat kubaca dalam hati lebih cepat dari biasanya. Karena waktu menjelang adzan subuh segera tiba. Tak lupa doa mau bepergian ku baca doa setelah membaca QS An-Nas dan QS Al Ikhlas.

Doa mau pergi itu juga menjadi rutinitas ku di saat Pandemi tahun ini belum dinyatakan pemerintah daerahku jadi kawasan merah. Kadang ini membuat was-was banyak orang untuk keluar rumah. Di lebaran tahun kemarin saya sampai ketemu langsung dengan pak Lurah, bahwa masyarakat di daerahku yang sangat kental dengan kehidupan agamis tidak patuh benar mengikuti anjuran Prokes.

Mushala, masjid memang pernah menjalankan standar prokes, tapi itu cuma setengah tahun. Sembari berlebaran, aku sampaikan keadaan warga desa apa adanya.

“Masyarakat butuh keluar rumah. Ada yang ke pasar, ke tempat ibadah, dan keperluan mendesak lainya,” kataku.

Pak lurah diam tersenyum sambil menghisap sebatang lisong.

“Kamu ada rokok?,” katanya santai. Sembari memerintah istrinya untuk mengambilkan rokok dari dalam rumah.

“Bu….Kalau rokoknya habis ambil di warung barat di sebelah rumah Pak Lurah,”

Mpun mboten ndamel repot-repot. Kulo mpun wonten. (Sudah jangan repot-repot. Saya sudah ada),” kutampik pemberian pak Lurah, sembari kukeluarkan sebungkus rokok yang masih setengah bungkus. Saya langsung menyulutnya merokok sambil berbincang dengan warga desa karena masih suasana lebaran.

“Alhamdulillah, desa kita zone zonk Pandemi. Sekalipun sampai ada jaga desa, Prokes. Sampai saat ini masih zonk pandemi dan kita berharap jangan ada warga desa kena pandemi,” terang Pak Lurah.

“Tapi warga desa sebaiknya jangan memaksakan diri bepergian jauh,” kata putra sulung Pak Lurah yang bekerja di Polres Kabupaten Sebelah timur dari daerahku.

“Iya, sekarang jadi serba sulit dan bikin pertemuan terbatas dibatalkan. Orang takut berkumpul. Bahkan lebaran tahun ini, reuni sekolah alumni SMP tidak digelar. Yang ada lebaran virtual. Semua serba lewat HP,” kataku.

Anak sulung pak Lurah, sembari memegang tisu, batuk-batuk sambil berjalan keluar rumah sebentar lalu balik lagi.

“Mestinya orang berkerumun, dilarang dulu. Maaf dik, saya masih pilek habis lembur sebelum Lebaran kemarin,” katanya sambil berlinang air mata.

Putra Sulung Pak Lurah itu juga alumni sekolahku. Dia kakak kelas, beda angkatan alumni. Di dalam ruang tengah Pak Lurah, ada sekitar lima orang tamu dan warga desa juga berdatangan tiap dua menit, cuma datang sebentar lalu lekas berlalu, karena lebaran kemarin benar-benar tidak memakai salaman jabat erat tangan. Cukup seperti orang menyembah sambil berdiri.

Kadang lucu juga, jadi kayak orang merapatkan dua telapak tangan seperti sedang menyembah,  salamannya kaum hawa perempuan sambil berdiri. Memang kuakui, lebaran kemarin aku selepas Shalat Ied, langsung ke kuburan ziarah dan berdoa. Baru selepas itu berlebaran bersama keluarga. Akankah lebaran tahun ini seperti tahun kemarin?

Masih kuingat, aku bertemu dengan sesepuh keluarga dan menjadi guru akuntansi. Ceritanya jadi membahas hutang luar negeri.

“Kamu di sini saja,” katanya bijak.

“Aku tak sanggup menolak ajakan pak guru akutansiku, aku sangat menghormatinya, bukan karena aku dapat nilai 9,” gumanku dalam hati.

Tepat dugaanku alumnian, tradisi itu juga kabarnya akhirnya ditiadakan diganti hari yang lain.

*

Waktu hampir menunjukan pukul 04.25. Bergegas aku keluar kamar menuju mushala depan rumah ku dan di mushala sudah ada beberapa jamaah menunggu shalat Subuh.

“Jie, adzan!” kata sang tetua mushala setengah memerintah, karena muadzin yang biasanya berangkat, katanya lagi minta gantian.

Adzan, pemanggil orang untuk shalat, tentu dirindukan ummat beriman. Agar segera bergegas memenuhi panggilan Sang pemilik jagad alam semesta. Bukti, sebagai hamba yang lemah harus patuh dan tunduk pada sang Khaliq.

Aku tak sanggup menampiknya, segera kuambil mikrophone toa dan kulantunkan adzan seperti biasanya. Cuma lebih cepat saja dari biasanya. Aku memilih lamanya adzan dari ukuran 3-9 oktaf. Kupilih semampuku tidak kupaksa seperti Adzan Kedah, Malaysia yang durasinya 12 menit. Saya coba mengikuti adzannya gaya Solo yang cuma 3-6 menit, hampir serupa adzan iqamat.

Habisnya, untuk suara nyaring, aku biasa pakai gurah tenggorokan dengan air sirih serta ramuan rahasia yang dimasukan lewat hidung, dan dahak atau air lendir kotor akan keluar dari rongga hidung.

Bagi yang sakit betul, bisa keluar darah hitam atau merah. Aneh, ketika aku digurah lewat hidung, yang keluar warnanya coklat muda keruh. Kata si tukang gurah, “Itu cuma kena efek udara kotor atau debu.”

Saya maklumi saja, karena saya sering naik motor. Nggak jauh cuma 3 kilometer arah kecamatan dan jalan aspal berdebu yang beterbangan mungkin kehirup lewat lubang hidung.

Untuk menambah suara panjang ketika adzan, setiap hari, aku membaca  Al Qur’an yang ayat surahnya panjang-panjang. Mungkin karena itu sambil berlatih panjang pendek suara, oktaf.

Selain itu, temanku kost sewaktu SMA di Purwokerto punya trik agar suara jadi jernih. Yaitu dengan makan cabai cengis hijau satu mangkok. Itu Qariah kenamaan dari Pemalang juara Indonesia dan Internasional. Sementara temenku, hanya selalu juara dua.

Pagi kali ini aku tidak mau memaksa diri bersuara panjang seperti adzan Kedah, Malaysia. Tidak, aku lebih memilih makna dan isi dibanding ikut gaya orang dan suara orang.[*]

Aji Setiawan, seorang kolumnis di berbgai meria. Aktif menulis opini dan cepen Islami. Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah.

Facebook Comments
(Visited 30 times, 1 visits today)
108 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *