Menanti Kejutan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Oleh: Aji Setiawan

SEIRING dalam menyambut kejutan lonjakan arus wisata pada bulan-bulan ke depan,  ada yang perlu menjadi pedoman dalam pengembangan pariwisata, yakni pelayanan (service).

Aji Setiawan

Pelayanan wisata harus dilakukan secara maksimal. Karena wisatawan yang datang menengah ke atas. Pelayanan wisata harus dilakukan secara optimal dan memberikan kesan bagi pengunjungnya. 

Pariwisata dan ekonomi kreatif potensinya menjanjikan harapan baru. Bagi tumbuhnya pariwisata di satu sisi dengan produk-produk kreatif di sisi lain. Belum adanya pedoman-pedoman baku terhadap sektor-sektor ekonomi kreatif menjadikan memaksimalkan potensinya.

Sejak digabungnya pariwisata dan ekonomi kreatif memang secara nyata di lapangan belum ada upaya yang terpadu untuk membuat keduanya saling mendukung. Sehingga mampu menciptakan multipler effect bagi tumbuhnya sektor pariwisata dan produk kreatif.

Saat ini objek wisata yang ada di Indonesia masih sangat jarang yang di design agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif bisa maju bersama-sama dan tumbuh saling mendukung.

Dari sisi pengelolaan manajemen pariwisata dikelola pemerintah daerah. Namun dari sisi pengelolaan produk ekonomi kreatif seperti penjualan cinderamata dilakukan masyarakat setempat. Kelemahan utamanya adalah mereka yang jualan di objek wisata tersebut tidak diberikan tempat khusus oleh pengelola objek wisata tersebut.

Fenomena semacam ini juga terjadi di objek wisata lain. Seperti Grand Canyon di Ciamis, Goa Lawa di Purbalingga. Pantai Petanahan di Kebumen dan hampir semua objek wisata berjalan seperti ini.

Untuk memajukan pariwisata dan produk kreatif secara bersamaan perlu upaya untuk memadukan program pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi satu paket.

Artinya objek wisata harus bekerjasama dengan orang-orang yang terlibat dalam penjualan cinderamata di objek wisata tersebut. Bahkan bukan hanya itu, harus diupayakan cindaramata yang diperjual belikan di objek wisata tersebut harus ikut mendongkrak meningkatnya kunjungan wisatawan pada objek tersebut.

Bicara tentang pariwisata tidak terlepas dari budaya secara umum termasuk adat istiadat dan juga produk khas daerah. Karenanya penjual cinderamata dan produk khas daerah pada salah satu objek wisata harusnya ikut menjual identitas objek wisata atau budaya daerah setempat.

Sangat penting pengaruhnya untuk memperhatikan para penjual produk-produk kreatif pada objek wisata tertentu mendapatkan pelatihan. Bagaimana cara menjual yang baik bahkan jika penjual pun hendaknya menonjolkan budaya setempat dengan penguasaan logat daerah yang mumpuni jika perlu menggunakan seragam objek wisata setempat atau pakaian khas daerah setempat.

Perhatian pemerintah sebagai pihak yang berkepentingan untuk menaikkan kontribusi pariwisata dan ekonomi kreatif harus ditunjukkan. Dengan keterpaduan program semacam ini. Keterpaduan program selanjutnya adalah persoalan menyatunya sektor-sektor ekonomi kreatif dengan objek wisata.

14 Sektor

Saat ini pemerintah menggolongkan sektor ekonomi kreatif ke dalam 14 sektor antara lain: periklanan (advertising); arsitektur; pasar barang seni; kerajinan; desain; pakaian (fashion); permainan interaktif (game); musik; seni pertunjukan; video, film dan fotografi; penerbitan dan percetakan; layanan computer dan piranti lunak (software); televisi dan radio serta riset dan pengembangan.

Objek wisata yang memiliki wahana wisata yang terpadu dengan 14 sektor tersebut akan sangat membantu pengembangan industri kreatif. Banyak objek wisata di tanah air belum memadukan antara wahana wisata dengan 14 sektor ekonomi kreatif yang mungkin bisa dilakukan di objek tersebut.

Pada satu objek wisata tentunya bisa dipakai untuk media periklanan, menampilkan produk arsitekur rumah daerah. Membangun pasar seni dan kerajinan, menampilkan fashion khas daerah, membuat video-video documenter. Menampilkan seni musik dan pertunjukan khas daerah dan menunjang sektor yang mungkin ada di objek wisata tersebut.

Jawa Tengah mempunyai banyak potensi lokal yang dapat digali. Tinggal bagaimana sentuhan kreativitas dan seni. Sehingga sebuah produk tampil lebih menarik. Masyarakat—utamanya generasi muda—diharapkan berperan aktif dengan berkreativitas dan memunculkan potensi lokal daerah yang dimilikinya.

Pontensi wisata lokal, baik wisata alam, wisata religi, wisata kuliner, wisata pendidikan dll. Dengan berbekal ilmu pengetahuan dari berbagai macam disiplin ilmu. Diharapkan bisa mengolah potensi yang ada, sehingga layak jual dan bisa bersaing dipasar global.

Agar semua potensi lokal dapat tumbuh kembang dengan baik. Perlu dukungan pemerintah daerah melalui kepala daerah dengan regulasinya. Agar potensi yang ada bisa dipakai atau dikonsumsi masyarakat di lingkungan daerah tersebut.

Kekayaan Alam Indonesia

Kekayaan alam dan budaya merupakan komponen penting dalam pariwisata di Indonesia. Alam Indonesia memiliki kombinasi iklim tropis, 17.510 pulau (yang 6.000 di antaranya tidak dihuni)  serta pulau tak bernama.

Indonesia secara resmi melaporkan 2.590 pulau bernama ke PBB sehingga pulau bernama di Indonesia bertambah menjadi 16.056 pulau. Garis pantai terpanjang ketiga di dunia setelah Kanada dan Uni Eropa.

Indonesia juga merupakan negara kepulauan terbesar dan berpenduduk terbanyak di dunia. Sektor pariwisata dianggap sebagai lahan strategis untuk mempercepat laju ekonomi. Pariwisata diyakini sebagai cara yang tepat dan cepat untuk mensejahterakan rakyat.

Pengembangan sektor pariwisata dapat memberikan multifier effect (efek ganda) kepada masyarakat. Selain menciptakan iklim perjalanan dan pengalaman, wisatawan yang datang ke objek wisata juga akan menggerakkan ekonomi kreatif di daerah tersebut.

Sektor pariwisata dapat melibatkan orang dari berbagai latar belakang. Mulai dari door boy di sebuah hotel hingga pada bagian yang lebih tinggi berbasis teknologi informasi (IT). Itulah mengapa, sektor pariwisata mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak.

Besarnya potensi wisata di Indonesia ini harus disinergikan dengan strategi khusus untuk mendongkrak laju ekonomi nasional. Indonesia ini sangat kaya tempat wisata. Baik wisata budaya (culture tourism) maupun wisata alam (nature tourism), education tourisme, religy tourism) dll, yang muara akhir dari rikhlah perjalanan panjang tak bertepi itu ujungnya adalah sesuatu yang indah pada waktunya.[]

Penulis: Mantan wartawan Majalah alKisah Jakarta dan Ketua PWI Repormasi Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *