Simpul Sanad Keilmuan Jejaring Ulama Nusantara – bagian II –

ULAMA-ulama nusantara memiliki andil terhadap kelahiran pembaharuan Islam di negeri Nusantara. Ulama Nusantara pada masa itu antara lain Nurrudin Al Raniri (1068/1658). Abd Al Ra’uf Al Sinkili (1024-1105/1615-1730) dan Muhammad Yusuf Al Makassari (1037-1111/1627-1699). Syekh Burhanudin Ulakan (1100 H/1680 M), Syekh Arsyad Al Banjari (1777) dan yang lainnya.

Sementara jaringan ulama beserta langkah pembaharuan yang dilakukan para ulama di wilayah Melayu-Indonesia pada abad 17 dan 18 banyak dilakukan Ulama Aceh di bawah Teuku Cik Di Tiro, Teku Umar.

Ulama-ulama Padri di bawah komando Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro dan Kiai Mojo di Tanah Jawa. Sayyid Idrus Sulawesi, Syekh Arsyad Al Banjari Kalimantan. Haji Wasid dan H Abdul Karim Banten. Banyak membentuk pola pemberontakan lokal dan belum meluas serentak se tanah air dalam melawan kolonialisme.

Pengembangan keilmuan Islam pada saat itu tentu terpusat pada surau, dayah dan mushalla. Sisanya banyak ulama, kiai dan santri berjuang secara gerilya dalam skala lokal (teritorial) kompeni Belanda.

Jumhuriyah Indonesia

Baru pada akhir abad ke-19. Ulama-ulama pesantren di nusantara makin masif berkonsolidasi. Selain di Makkah dan Madinah, konsolidasi juga dilakukan di nusantara. Misalnya di Aceh pada 1873 telah mencetuskan ide “Jumhuriyah Indonesia” (Republik Indonesia) dan disebarkan hingga ke Papua. Untuk membangun cita-cita kesatuan tanah dan bangsa Indonesia.

Jejaring ini pernah dibangun dalam jejaring ‘Busur Laut Nusantara’ pada abad ke-14 hingga abad ke-16. Jejaring ulama-santri yang telah menegakkan Indonesia sebenarnya hasil dari proses panjang terbentuk dan terkonsolidasinya jejaring ulama Timur Tengah dan nusantara sebelumnya.

Memasuki paroh kedua abad ke-19 dan abad ke-20. Semakin banyak ulama tanah Jawa yang menuntut ilmu di tanah suci. Informasi tentang biografi mereka lebih banyak dan tercatat dengan cukup detail di dalam kitab-kitab sanad dan buku-buku biografi Arab.

Banyak dari mereka telah mendapat ijazah (sertifikasi) dan mengajar di Masjidil Haram. Hal tersebut secara tidak langsung, menjadikan mereka di tanah suci sebagai penerus jejaring ulama nusantara yang telah dirintis para ulama nusantara sebelumnya.

Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan, seorang mufti agung Makkah pada abad ke-19 yang telah membuka pintu bagi ulama-ulama nusantara untuk berkiprah. Memancangkan komunitasnya di Haramain dan berjejaring dengan ulama-santri di Nusantara.

Sebagian ada yang menyemai di Haramain untuk menampung para ulama-santri yang datang dari berbagai penjuru nusantara. Sebagian kembali ke nusantara untuk menjadi poros dan mengokohkan bergeraknya jejaring sanad keilmuan yang telah dibangun.

Dari Kalimantan muncul Syekh Khatib As Sambasi, Syekh Arsyad Al Banjari dan Syekh Nafi Al Banjari. Dari Sumatera muncul Syekh Ismail al Minangkawi, Syekh Abdusshommad Al Falimbani dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi. Syaikh Abdul Wahab Sandenreng Daeng Bunga Bugis.

Dari Jawa muncul Syekh Ahmad an Nahrawi al Banyumasi, Syekh Juned al Batawi, Syaikh Abdur rahman al Mishri. Syekh Nawawi al Bantani, Syeikh Agung Asnawi bin Syeikh Abdurahman Caringin al Bantani. Syekh Mahfudz Termas, Syekh Abdul Karim al Bantani.

Dari Nusa Tenggara Barat menghadirkan Syekh Abdul Gani Bima pada abad ke-19 yang berada di Masjidil Haram Makkah menjadi poros bagi ulama-ulama nusantara.

Poros ulama nusantara di Haramain tersebut berhasil membentuk soliditas ulama. Muncullah nama-nama semisal Syekh Sholeh Darat, KH Ahmad Rifai’i Kalisalak, Syekh Khalil Bangkalan, Syekh Hasyim Asy’ari, Syekh Tolhah Cirebon, KH Ahmad Dahlan, Tuan Guru Zainuddin bin Abdul Madjid Al Amfani Al Fancuri (Tuan Guru Pancor, Lombok NTB), KH Ahmad Sanusi Sukabumi, Guru Mansur Al Batawi, Syaikh Muhtar Al Bughuri, Dr Moh Hatta Bukit Tinggi.

Kenapa penulis perlu memasukan Dr Hatta dalam salah satu khazanah ulama Indonesia. Dr Moh Hatta pernah belajar dengan Haji Mohammad Djamil, putra Syekh Batu Hampar. Ia juga belajar dengan Syekh Arsyad dan Syekh Djambek yang tiada lain tokoh besar ulama Minangkabau pada masa itu.

Baca Bagian I:

Jangkar Ulama

Ulama-ulama inilah yang dikemudian hari menjadi jangkar ulama di nusantara yang menggerakkan poros tersebut. Berkiprah di pesantren, surau atau dayah. Mereka tidak hanya menimba ilmu di Haramain. Tapi juga di Kairo Mesir sehingga terdapat diskursus intelektual dan perbedaan garis perjuangan.

Meskipun demikian, karena memiliki kesamaan (sanad keilmuan dan semangat anti kolonial) diskursus dan perbedaan tersebut mampu diredam meskipun percikan-percikannya tentu saja mempengaruhi arah dan warna perjuangannya di kemudian hari, khususnya dalam tradisi keberagamaan.

Sejarah mencatat, simpul-simpul utama jejaring ulama tersebut terkonsolidasi dalam suatu poros untuk menegakkan bangsa Indonesia. Syekh Hasyim Asy’ari berupaya mensinergikan simpul-simpul utama ulama, habaib, dan kelompok pembaharu (cendekiawan) untuk bergerak bersama dalam Nahdlatul Ulama.

KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah, KH Ahmad Sanusi dengan Persatuan Islam (Persis), Tuan Guru Zainuddin bin Abdul Madjid Al Al Fancuri (Tuan Guru Pancor, Lombok Nusa Tenggara Barat) dengan mendirikan Nahdlatul Wathan pada 1937.

Sayid Idrus dengan Al Khairat di Palu (Sulawesi), Syekh Nafi dengan Darussalam di Banjarmasin. Jejaring ulama Betawi-Bekasi (Guru Mansyur Jembatan Lima, Guru Mughni Kuningan, Guru Mujtaba, Guru Mahmud, Guru, Khalid, Guru Marzuki, KH Noer Ali Bekasi, Syaikh Muhajirin Amsar ad-Dari).

Sementara tokoh pergerakan dan kebangkitan nasional dari intelektual muslim. Tampil diantaranya Dr Moh Hatta, Ir Soekarno, KH A Wahid Hasyim dari Nahdlatul Ulama dan Syahrir dengan Persatuan Nasional Indonesia (PNI) dan lain sebagainya.

Melalui jejaring gurunya, koleganya dan muridnya, simpul-simpul itu yang merupakan mata rantai emas keilmuan dan sekaligus intelektual pergerakan (para ulama) membangun soliditas dan kekuatan utama pergerakan nasional hingga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terbentuk dan terkoneksinya jejaring itu menjadi kekuatan baru (new energyzing) yang nantinya membungkam sejarah kolonial. Menjadi titik pijak gerakan pembaharuan Islam (nasionalis-Islam) baik yang gerakan Islam tradisional dan gerakan Islam moderat.

Gerakan Islam yang tradisional, moderat dan toleran itu masih berkembang hingga kini. Telah mewarnai, bentuk dan serta corak gerakan Islam keagamaan, politik, ekonomi dan sosial budaya kemasyarakatan dalam bingkai NKRI.[Aji Setiawan]

Penulis, Alumnus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan mantan wartawan Majalah alKisah Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *