Perlu Skenario Mengembalikan Utang Luar Negeri

Oleh: Aji Setiawan

KEMENTERIAN Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi hutang pemerintah hingga Juli 2021 berada di posisi Rp6.527,29 triliun. Posisi utang ini setara dengan 41,18 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Aji Setiawan

Melihat posisi hutang Indonesia. Kondisi utang Pemerintah Indonesia ini sudah dalam level membahayakan atau mengkhawatirkan dilihat dari beberapa indikator.

Hal itu terlihat dari debt to service ratio (DSR) atau kemampuan membayar utang Pemerintah dibanding penerimaan negara sudah di atas 50 persen pada 2020. Maka mengakibatkan Pemerintah harus membayar bunga utang yang lebih mahal untuk mendapatkan bunga pinjaman yang baru.

Kenapa begitu? Karena kalau kita melihat tren dari beban bunga utang yang harus dibayarkan itu jika dibandingkan dengan penerimaan pajak 2021 saja sudah mencapai 25 persen atau 19 persen dari penerimaan negara total ada pajak dan PNBP.

Untuk penerimaan pajak saja, seperempat dari penerimaan pajak sudah habis untuk membayar bunga utang sebesar Rp373 triliun per tahun. Sehingga akan menjadi beban. Bukan hanya pada APBN tahun berjalan tapi sudah menjadi beban perekonomian dalam jangka panjang.

Bahkan Pemerintah menerbitkan surat utang yang tenornya jatuh tempo pada 2070. Artinya sepanjang 50 tahun ke depan Indonesia masih akan terus melanjutkan pembayaran utang untuk menutup utang yang sedang jatuh tempo.

Sampai 2070, skenario mengembalikan utang luar negeri memang terlalu jangka panjang. Cara yang lebih revolusioner cuma dua. Yakni memproteksi diri seperti Amerika Latin, sebagian Timur Tengah dengan berkompromi sama komprador negara donor. Kompromi bisa dilakukan dengan cara minta potongan utang, seperti Jerman. Atau paling pahit kita harus mengembalikan seluruh utang dalam skenario jangka waktu tertentu.

Ini butuh komitmen bersama. Siapa sih yang mau anak cucu mewarisi hutang cacat bawaan rejim masa lalu turun temurun? Utang secara prinsip harus dibayar, bila menolak, namanya ngemplang. Itu hanya dilakukan negara-negara dunia ketiga yang kemudian siap secara militer vis a vis dengan komprador kapitalisme global.

Di Dunia pernah lahir Fidel Castro, Sadam Husein. Indonesia tak bakalan lahir jiwa petarung melawan komprador kapitalisme global.

Dalam kondisi pandemi saat ini. Hampir tidak ada negara rasio utang di kisaran itu. Misalnya saja di akhir 2020, Indonesia 38,5 persen, Filipina 48,9 persen, Thailand 50,4 persen, China 61,7 persen, Korea Selatan 48,4 persen, dan Amerika Serikat 131,2 persen.

Kita perlu mengkaji lebih dalam, bahwa rasio utang terhadap PDB harus benar-benar mencerminkan kondisi riil. Selama ini perhitungan tersebut hanya utang pemerintah pusat terhadap PDB, sedangkan utang  BUMN itu tidak dimasukan.

Bahkan, jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Jepang, utang per kapita RI malah lebih jauh lagi. Satu orang di AS, misalnya, menanggung utang US$62 ribu atau Rp897 juta. Sementara di Jepang, per orang menanggung US$85 ribu atau Rp1,2 miliar.

Presiden menyerukan agar seluruh kementerian menghemat anggaran belanja untuk memperkecil defisit anggaran negara. Khususnya pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran pada kementerian/lembaga/pemerintah daerah harus berfikir bagaimana cara melakukan penghematan anggaran yang telah dialokasikan?

Bagaimana cara menjaga hutang Indonesia tidak menghadapi risiko besar. Sehingga mampu untuk dilunasi? Caranya adalah dengan menjaga cadangan devisa. Cadangan devisa, selain digunakan sebagai menjaga stabilitas rupiah juga digunakan untuk membayar utang luar negeri pemerintah.

Pada APBN 2022, pemerintah berencana menutup defisit sekitar Rp1.100 triliun. Membayar bunga lebih dari Rp380 triliun. Dari angka-angka neraca keuangan negara menandakan postur anggaran kita yang masih belum sehat. Target pertumbuhan 7,07% pada akhir 2021 tentu menjadi tantangan di tengah Pandemi.

Pemerintah menempuh tiga program yang menelan hampir Rp900 triliun menghadapi pandemi yakni vaksinasi, Bantuan Sosial dan Dana Kesehatan. Maka untuk menopang fundamental ekonomi yang tidak kalah penting adalah menyiapkan cadangan devisa.

Cadangan Devisa

Maka diperlukan cadangan devisa untuk menjaga rupiah. Dengan cadangan devisa kita yang tinggi, berarti kita punya kemampuan untuk (membayar utang).

Cadangan devisa akan naik bila sumber­sumber pendapatan devisa terus mengalirkan dana segar. Sebaliknya, cadangan akan menyu­sut bila kebutuhan pembayaran utang dan biaya operasi moneter untuk menstabilkan nilai tukar rupiah melonjak.

Dalam menjaga cadangan devisa, dalam hal ini Bank Indonesia bertindak sebagai pengelolanya. Asal tahu saja, cadangan devisa berasal dari ekspor minyak dan gas, jasa kas negara, serta utang luar negeri yang dilakukan pemerintah. Dana milik pemerintah dalam bentuk valuta asing (valas) itulah yang akan dikelola BI.

Cadangan devisa akan semakin terjaga jika kondisi likuiditas valas di dalam negeri mencukupi. Jika pasokan valas senantiasa tersedia dalam jumlah besar, maka kondisi nilai tukar rupiah tidak mudah tertekan akibat sentimen negatif.

Untuk bisa mendatangkan devisa. Pemerintah tidak hanya bisa dapat mengandalkan valas alias pasar valuta asing saja. Di sisi lain pemerintah harus dapat memperkuat neraca transaksi berjalan. Caranya dengan meningkatkan pendapatan transaksi berjalan atau current account receipts yakni pendapatan yang berasal dari ekspor barang dan jasa.

Neraca perdagangan ekspor impor kita berkontribusi positif, tapi dalam tiga bulan terakhir mengalami defisit. Sehingga tiga komponen penting pembentuk transaksi berjalan kita semuanya defisit akhirnya menyebabkan rupiah secara fundamental akan melemah.

Target pertumbuhan ekspor bisa digenjot Rp400 triliun dari sektor industri manufaktur. Ini bisa diharapkan memulihkan pertumbuhan ekonomi. Sektor pariwisata dan industri kreatif bisa pulih, target Rp1.400 trilyun (penerimaan negara transaksi Rp1.100 triliun sedang berjalan) dan sektor prospektif yang mampu mendongkrak pertumhuhan adalah investasi syariah terutama industri produk halal. Bonus demografi (jumlah penduduk) terbesar dunia, menempatkan Indonesia pada posisi ke-4 pasar global produk halal.

Hal inilah yang akhirnya membuat mata uang rupiah tidak mudah keok ketika ada guncangan dari global. Ketika The Fed menaikkan tingkat suku bunganya. Maka yang terkoreksi paling tajam adalah nilai tukar emerjing market dibandingkan negara-negara lain.

Indonesia perlu menyiapkan cadangan devisa. Agar tidak mudah goyah oleh guncangan resesi ekonomi global.[dari berbagai sumber]

Penulis: Mantan wartawan Majalah alKisah Jakarta, alumni Teknik Manajemen Industri, UII Yogyakarta. Mantan Ketua PWI Reformasi Korda Jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *