Pembaca halaman7.com yang berbahagia
DALAM sepekan terakhir ini, kita terus dicekoki dengan pemberitaan yang membuat kita kembali geleng-gelang kepala. Bahkan dapat dipastikan, saat membacanya, muncul umpatan atau cacian baik yang terucap maupun dalam hati.
Berita itu tak lepas dari berbagai kasus amoral yang terjadi di tengah masyarakat Aceh yang nota bene terkenal religius dan beradab. Tapi begitulah realitanya, di tengah masyarakat Aceh yang islami itu masih ada kelakuan bejat terjadi.
Tentu masih kuat dalam ingatan kita beberapa hari lalu, Polda Aceh menangani kasus aborsi (menggugurkan janin dalam kandungan secara paksa). Aborsi dianggap jalan yang tepat untuk menghapus jejak dosa yang telah dilakukan sebelumnya.
Ironisnya, aborsi anak hasil hubungan terlarang di luar nikah itu, melibatkan ibu kandung dari salah seorang pelaku aborsi. Sang nenek rela mengeluarkan uang banyak untuk mengugurkan calon cucu.
Lain lagi cerita, seorang kakek di Banda Aceh yang tega memperkosa cucunya sendiri yang masih di bawah umur. Dimana seorang kakek yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga dan melindungan garis keturunannya, namun tega dirusak dengan dinodai.
Akibat perbuatan yang jauh dari bermoral tersebut, kakek berusia 61 tahun ini harus berurusan dengan polisi. Jika dilihat sekilas latar belakangnya, sang kakek yang berinisial IR, merupakan orang terpelajar, karena kakek ini merupakan pensiunan PNS.
Jauh sebelumnya, ada juga kasus dua pria di Darul Imarah, Aceh Besar yang juga ditangkap polisi sebab melakukan perbuat keji terhadap anak dibawah umur dengan cara sodomi.
Cerita kaum Sodom masa nabi Luth, bukan saja dilakukan kedua pria tersebut. Bulan lalu kita juga dikejutkan adanya pejabat se level kepala dinas di Banda Aceh ditangkap karena melakukan hubungan dengan sesame jenis di kantor tempat sang pejabat tersebut bekerja.
Beberapa kasus di atas, hanya sebagian kecil yang terungkap ke permukaan. Ibarat phenomena gunung es, cerita-cerita sejenis juga pasti banyak terjadi, bisa berbanding 1:10. Dimana satu yang terungkap ke permukaan, namun masih ada 10 lagi yang masih tenggelam di dasar kenistaan yang hingga saat ini masih aman-aman saja dan nyaman.
Kasus-kasus ini tentu bukan barang baru di Aceh, namun cerita-cerita tersebut sabab hari, minggu, bulan dan tahun terus saja terungkap ke permukaan. Cerita hokum cambuk, kiranya tak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan.
Syahwat arus bawah terus terjadi dan terulang dengan pemain yang berbeda lagi. Razia penginapan (hotel) yang dilakukan para pejabat disejumlah daerah di Aceh, juga bukan cara jitu untuk memberantas penyakit itu semua.
Semakin dikerasi, semakin banyak juga orang nekat melakukan maksiat, ini tak lepas dari tipikal masyarakat Aceh. Dimana semakin diberlakukan keras dalam penanganan masalah, maka semakin besar juga perlawanan yang diberikan.
Lalu, apakah ini harus dibiarkan? Tentu tidak, jawabannya. Dalam hal ini, semua pihak, mulai dari pemerintah, institusi terkait dan komponen masyarakat, termasuk ulama harus berperan besar untuk meminimalisir semuanya. Sebab untuk kata berantas, rasanya penyakit ini akan sulit diberantas hingga ke akarnya.
Sederhanya mungkin para pejabat, tokoh publik, atau siapa saja yang jadi panutan di tengah masyarakat, bisa memberi contoh-contoh baik. Bukan malah punya kebanggan melakukan hal-hal yang bisa meracuni pikiran generasi saat ini.
Efek Domino
Ibarat efek domino, penyakit tersebut bukan saja muncul semata-mata karena birahi semata, namun karena banyak faktor lainnya yang saling berkaitan. Misalnya, sebagai contoh kecil, mahalnya harga emas membuat banyak anak-anak muda yang enggan nikah dan lebih memilih sek bebas. Intinya kan kawin, jika menikah merupakan satu hal rumit dan membebankan.
Di zaman sekarang ini, tidak makan sehari rasanya lebih aib dibandinkan jika tertangkap mesum. Lebih aib jika tak mampu bergaya di Medsos, dibandingkan aib dan memalkukan, jika tertangkap mencuri.
Lalu apakah ini terus kita biarkan begitu saja dan kita diam semua? Jawabannya, kita semualah yang tahu[h7]

















