Catatan: Iranda Novandi
SAHABAT ku dan kawan-kawan ku para anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh dimanapun berada, baik di pesisir, pegunungan maunpun yang berada di pulau. Semoga akhir pekan ini kita selalu bahagia, sehat dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
Rasanya tak tahan juga hati ini, untuk terus diam melihat dinamika yang terjadi di Konfrensi Provinsi (Konferprov) PWI Aceh saat ini. Ingin komentar atau menulis sesuatu (karena kita wartawan), ada rasa enggan dan enggan malu sendiri. Alasannya, takut karena komentar dan tulisan yang sedikit nyeleneh (serapan dari bahasa Jawa: nyleneh, yang telah disempurnakan sesuai KBBI) bisa memperkeruh suasana.
Tapi, sekelai lagi, hati ini rasanya tak bisa diam dengan merasa miris, harus juga menulis ini. Terlepas diterima atau tidak.
Sebelum kita masuk inti cerita tentang konferprov PWI Aceh, kita kilas balik dulu ke Kongres PWI Persatuan di Cikarang, Bekasi pada 2025 lalu. Para abang, kakak dan orang tua kita bersepakat mengakhiri, konflik internal dengan menyelenggarakan Kongres Persatuan.
Niatnya sedernaha, hanya ingin menyelematkan PWI dari ambang kehancuran, sekaligus mengembalikan marwah PWI yang telah babak belur di obok-obok masalah internal yang tak kunjung reda. Intinya, semua pihak bersepakat untuk bisa menyelamatkan dan menjaga persatuan dan keutuhan organisasi yang telah berusia seumuran dengan lahirnya republik ini.
Semangat itu, tercermin dengan sikap bijak ketua PWI terpilih, Ahmad Munir yang mengakomudir, para pihak yang bertikai menjadi bagian untuh dalam kepengurusan PWI Pusat 2025-2030.
***
Sabtu, 7 Nopember 2026, siang. Lewat jaringan WhatsApps, seorang teman mengimkan saua e-Paper Koran Waspada, Medan yang terbit di akhir pekan ini. Judul Beritanya “Austin Tumengkol Batal Maja, Farianda Calon Tunggal”.
Jujur, pertama sekali melihat e-paper tersebut, hati saya bertanya “Drama apa lagi ini?”. Namun setelah kros cek dan mengulik (serapan dari bahasa gaul) berbagai link berita seputar konferprov Sumut, bukan saja Autin saja yang mundur, selain itu tokoh pers Sumut lainnya, Rinato yang juga dikenal dengan panggilan akrab Anto Genk juga mundur dari bursa pencalonan Ketua PWI Sumut.
Alasannnya sangat sederhana namun penuh makna, yakni pengunduran diri figur-figur yang sebelumnya digadang-gadang ikut meramaikan bursa ketua – seperti Austin dan kandidat lain (Rianto “Anto Genk” Aghly) – dilakukan demi menjaga kebersamaan, keharmonisan, serta soliditas di kalangan insan pers Sumatera Utara.
Alasan inilah yang membuta saya terharu. Ternyata, para kawan-kawan (bisa dibilang tokoh) di PWI Sumut lebih mengedepankan hati nurani yang sehat: demi menjaga kebersamaan, keharmonisan, serta soliditas di kalangan insan pers Sumatera Utara.
Bahkan di akhir berita yang dilansir bahanapena.com, Anto Genk yang juga Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sumatera Utara sekaligus CEO Sumut24 ini, menyatakan: “dalam membangun organisasi pers, persahabatan, saling menghargai, dan kebersamaan merupakan nilai penting yang tidak boleh dikesampingkan oleh kepentingan perebutan jabatan organisasi.”
Dingin rasanya membacanya. Sikap dewasa dan bijak ini tak salah bisa menular bagi siapapun yang ingin memajukan organisasi PWI ini, tek terkecuali di PWI Aceh.
Konferprov PWI Aceh
Pertanyaannya, apakah para calon atau kandidat yang menyatakan maju di PWI Aceh juga harus mundur? Jawabannya tentu tidak. Sekali lagi TIDAK. Demokrasi dalam pesta suksesi di PWI Aceh harus tetap berjalan. Tidak ada kata mundur.
300 lebih anggota biasa PWI Aceh, harus bisa memilih siapa yang layak untuk dipilih atau tidak, untuk bisa memimpin organisasi ini selama lima tahun ke depan, dalam rentang 2026-2032.
Mengutip kembali pernyataan Anto Genk dalam tulisan di atas “membangun organisasi pers, rasa persahabatan, saling menghargai, dan kebersamaan merupakan nilai penting yang tidak boleh dikesampingkan”.
Artinya, marilah berkompetisi secara sehat, tidak saling menbar fitnah dan hasutan sesat. Bukankah kita tahu semua, orang suka menebar fitnah dan hasutan kebencian itu, karmanya akan dibalas Allah di dunia.
Tentu kita juga pasti tau semua, orang yang suka membuka aib orang lain, bukan berarti orang tersebut lebih baik dari orang yang aibnya dibuka. Bahkan bisa jadi aib dari tukang buka aib lebih besar dan lebih banyak lagi.
Untuk itu, marilah tunjukan kedewasaan dan bijak dalam bersikap dan bertindak. Ini bukaqn saja bagi para kandidat, tapi juga para pendukung alias ‘tim hore’. Ingat, setelah hari ini, suaru hari nanti kita akan kembali berjumpa, ngopi barang, cerita bareng dan bercengrama bersama.
Jangan nodainya silaturrahmi dan kebersamaan itu, dengan cerita saat ini. Cerita yang telah mengores perasaan dan hati kita semua.
Sudah ah.. itu aja yang ingin saya sampaikan. Jangan terlalu panjang. Entar gak fokus pada intinya. Pesan terakhir, jadikanlah Cikarang dan Sumut, sebagai pembelajaran untuk kita semua dan harus bisa diambil aura positifnya.[]
Note: Tulisan ini bisa diambil/sadur ke media kawan-kawan PWI se Aceh, tanpa mengubah atau menggoreng subtansi makna dari tulisan.

















