Pengamat Kritisi Klaim Keberhasilan Budpar Aceh

Almunizar Kamal dan Usman Lamreueng

halaman7.comBanda Aceh: Pengamat pembangunan dan kebijakan publik Unaya, Usman Lamreung mengkritisi klaim capaian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Aceh.

Menurut Usman klaim capaian dan keberhasilan dari kepala dinas kebudayaan dan pariwisata Aceh tersebut tak lebih dari mengarang indah. Sekadar untuk pencitraan membangun, kesan dinas yang dipimpinnya telah menunjukkan kinerja yang baik.

Klaim capaian dan prestasi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, lanjut Usman, sesungguhnya mewakili kekonyolan yang parah dari kegagalan pembangunan Aceh selama ini. Akibat rata-rata pejabat kepala dinas atau SKPA tidak paham membedakan antara kegiatan dengan capaian.

“Tidak tahu membedakan antara input, ouput, income dan impact,” tegas Usman, Rabu 1 Februari 2023.

Sebelumnya, Kadis Budpar Aceh, dalam jumpa pers, Selasa 31 Januari 2023, mengklaim capain kinerja dinasnya sepanjang 2022. Beberapa point yang diklaimnya sebagai capaian positif tersebut diantaranya peningkatan kunjungan wisatawan.

Selain itu, pendaftaran karya budaya, sejumlah even, kegiatan pelatihan, sertifikasi, penghargaan Anugerah Pesona Indonesia (API). Termasuk status bandara Iskandar Muda sebagai bandara internasional.

Usman, mengakui ini sungguh menggelikan. Kegiatan rutin yang memang urusan wajib diklaim sebagai capaian. Input dan realiasi anggaran serta output kegiatan pun juga mereka banggakan sebagai prestasi.

Jadi yang dilakukan Kadis Budpar Aceh, Almuniza Kamal, menurut Usman sesungguhnya bukanlah unjuk capaian. Melainkan sekadar presentasi daftar kegiatan dan realisasi anggaran dengan bumbu penghargaan ini penghargaan itu.

Usman Lamreung menambahkan, ada beberapa indikator kinerja riil dan konkrit yang mestinya dijadikan tolok ukur untuk menilai capaian kinerja Dinas Budpar. Yaitu status destinasi wisata Aceh, kunjungan wisatawan, trend pengembangan usaha dan investasi pariwisata.

Baca Juga  Promo Wisata Sejarah Lewat Carnival Putro Phang

Lalu, serapan tenaga kerja, serta kontribusinya terhadap PAD dan PDRB Aceh. Serta sejauhmana ekosistem kepairiwisataan di Aceh tumbuh dan berkembang.  Hingga mampu bersaing dengan daerah-daerah lain.

“Ini yang tidak pernah kita dengar. Mestinya ini yang ditunjukkan data dan faktanya baik secara kualitatif maupun kuantitatif oleh Kadis Budpar Aceh,” ujar Usman.

Dikatakan, semua variabel capaian ini saling terkait dan mempengaruhi. Tali temali tidak bisa berdiri sendiri. Korelasinya runut dan runtut. Jika variabel pertama positif maka variabel-variabel berikutnya juga akan positif, begitu juga sebaliknya.

Tidak bisa misalnya, variabel pertama negatif lalu yang lain-lainnya positif. Akan langsung ketahuan bohongnya jika ada yang menunjukkan data dan fakta yang sungsang dari variabel-variabel ini.

Secara spesifik Usman memberi catatan atas beberapa point yang diklaim sebagai capaian Almuniza Kamal. Pertama, status bandara SIM sebagai bandara Internasional itu secara teknis adalah tupoksi dinas perhubungan bukan Disbudpar Aceh. Jika ini dimasukkan sebagai capaian maka sama saja kepala Dinas bUdpar mengklaim keberhailan atas pekerjaan orang lain.

Kemudian Anugerah Pesona Indonesia, itu lebih merupakan prestasi pemerintah kabupaten/kota bukan Pemerintah Aceh. Usman mengaku pernah mendengar tentang keluhan pemerintah kabupaten yang kecewa karena setelah mendapat anugerah API dan mengharumkan nama Aceh di pentas nasional. Namun tidak mendapat reward apapun dari Pemeirntah Aceh.

“Tapi jika sudah urusan klaim nomor satu. Jika informasi ini benar, maka semakin tidak mendasar klaim capaian oleh dinas kebudayaan dan pariwisata Aceh,” beber Usman.

Lalu yang paling utama, denggan segala potensinya destinasi wisata di Aceh tidak masuk dalam destinasi wisata prioritas nasional. Juga tidak ada program strategis semisal KEK pariwisata di Aceh yang mampu menciptakan ekosistem kepariwisataan Aceh yang maju dan bersaing dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

Baca Juga  Eksotisnya Pulau Lamun di Bumi Syekh Abdurrauf

Jika data dan fakta dari variabel utama ini negatif. Lalu bagaimana ceritanya tiba-tiba kepariwisataan Aceh diklaim maju dan berprestasi?

“Bagaimana pembangunan Aceh tidak gagal dan sia-sia. Jika kepala-kepala SKPA asal klaim keberhasilan. Namun mereka sendiri tidak paham apa indikator dan parameter dari capaian atau keberhasilan itu sendiri,” tandas Usman.[ril | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *