Mengukur Peta Gubernur Aceh 2022

halaman7.com  Banda Aceh: Membaca peta politik elit dan dinamika politik elit Aceh terikait isu calon gubernur Aceh pada pilkada 2022 memang belum membumi. Isu tersebut masih dalam pembicaraan tingkat politisi.

Namun sudah ada dua partai politik yang sudah melemparkan isu tersebut. Salah satunya Partai Aceh. Dimana, berdasarkan hasil konsolidasi di Meulaboh diputuskan Muzakir Manaf sebagai dicalonkan Gubernur beberapa waktu lalu.

Selanjutnya partai lain yang berminat menawarkan diri biarpun masih malu-malu ada Mawardi Ali yang saat ini menjabat Bupati Aceh Besar. Setelah terpilih sebagai ketua Partai Amanat Nasional (PAN).

Mawardi menyatakan bila ada dukungan dan PAN solid. Ia berminat mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh pada Pilkada 2022.

Menyikapi hal tersebut, pemerhati sosial politik masyarakat di Aceh, Usman Lamreung, menilai kedua calon yang sudah menyatakan bakal maju sebagai calon gubernur Aceh pada Pilkada 2022, pasti punya peluang dan momentum.

“Tinggal bagaimana melakukan konsolidasi politik internal. Antar partai politik dan dukungan dari rakyat,” ujar Usman memberi komentar dalam kajian politiknya, Minggu 5 Desember 2020.

Menurut Usman, keduanya pastinya punya komitmen untuk membangun Aceh dari ketertinggalan disegala sector. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah dua calon yang menyatakan siap berpartisipasi tersebut mampu untuk merealisasikan tersebut?

Pertanyaan ini kembali pada penilaian rakyat. Karena keduanya sudah dan sedang dalam pemerintahan. Mualem pernah menjadi Wagub dan Mawardi Ali sedang menjabat sebagai bupati Aceh Besar.

Janji Politik

Khusus untuk Mawardi Ali, lanjut Usman, saat ini masih mejabat sebagai Bupati Aceh Besar. Harus mensukseskan berbagai program dan merealisasikan janji politiknya saat Pilkada yang lalu.

Masih banyak PR besar yang harus di implementasikan. Berbagai program pembangunan baik infratruktur, sosial ekonomi, pertanian, parawisata, syariat islam, pelayanan publik. Belum lagi, masalah sampah, air bersih dan pengembangan ekonomi kawasan.

“Semua itu belum sepenuhnya berjalan, dan masih menuai sorotan masyarakat,” ujar Usman yang juga akademisi Unaya ini.

Ditambah lagi persoalan penertiban dan pembongkaran bantaran Krueng Aceh. Dulu saat Pilkada adalah kantong-kantong suara terbanyak, dan atas kebijakan tersebut masyarakat kecewa pada bupati.

Dikatakan, bila dalam dua tahun ke depan Mawardi Ali mampu merealisasikan program kerja yang menjadi bagian janji politik saat Pilkada. Pasti rakyat Aceh Besar mendukung sepenuhnya hajat dan rencana ikut bursa calon gubernur Aceh.

“Bila bila sebaliknya, peluang dan momentum sangat berat,” pungkas Usman dalam analisisnya.[andinova | red 01]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *