Lembaga (yang) Ternoda

Catatan: Iranda Novandi

MALU dan memalukan. Negeri berbingkai syariat itu kini semakin ternoda. Lara mengusik jiwa, membunuh rasa bathin. Wajah negeri yang sedang tercoret moret, dari ulah orang-orang yang selayaknya menjadi moral.

Degradasi moral negeri ini semakin tak jelas. Terjun bebas ke titik nadir. Dua peristiwa yang memalukan, di ukir dalam bingkai sejarah neger yang berjulukan ‘serambi mekah’. Cari cerita penuh bercak noda dari aparatur penyelamat moral.

Ceri pilu nan ironis itu diawali dengan beredarnya foto syur seorang tenaga pendidik di lingkungan Kemenag Banda Aceh. Foto cibir (maaf- ciuman bibir) menjadi konsumsi publik. Jadi jadi bahan gunjingan. Bukan saja di Aceh, namun juga orang-orang di luar (Aceh) sana.

Dibalik cerita, viralnya foto cibir, ada indikasi pemerasan yang dilakukan sang penyebar yang juga pelaku cibir itu sendiri. Aroma perselingkuhan bengitu busuk tercium. Indikasi pemerasan, bila kasus ini berlanjut, maka ranah aparat kepolisian lah yang bisa menuntaskannya.

Sayangnya, dikabarkan, kasus ini indikasi pemerasan ini tak berlanjut ke ranah hukum. Karena, tak pihak yang merasa dirugikan dalam hal ini, sehingga tidak ada laporan ke pihak kepolisian. Ada apa sebenarnya?

Tak lama berselang, cerita affair kembali mengelinding. Seakan, negeri ini sedang diberi cobaan berat oleh Allah Swt. Seorang ASN yang juga memiliki jabatan penting di lingkungan Kanwil Kemenag Aceh, digrebek warga sedang asyik masyuk dalam busuknya aroma mesum berbalut perselingkuhan juga.

Rasanya aroma busuk, lebih busuk dari kutu busuk menjadi cobaan besar bagi Kementerian Agama (Kemenag). Apalagi aroma busuk itu datang dari negeri paling ujung barat pulau Sumatera, Indonesia yang konon katanya, menjadi daerah atau benteng terakhir penegakan syariat Islam di negeri ini.

Bila kasus pertama, bisa ke ranah hukum dan polisi akan bisa mengungkap semuanya menjadi terang benderang. Dalam kasus ke dua, aparat polisi syariah (wilayatul hisbah/WH) akan menjadi garda terdepan.

Kredibilitas, integritas dan trust sedang dipertaruhkan WH Banda Aceh. Mampukah kasus ini menegakan hukum yang sebenarnya. Sebab, banyak kasus di negeri ini, jika berbenturan dengan kalangan pejabat dan orang-orang memiliki koneksi kuat, hukum bisa dikebiri.

Penegakan hukum dalam hal ini Qanun Jinayat, yang katanya sebagai palang pintu tegaknya Syariat Islam (SI) di Aceh benar-benar dipertaruhkan. Hukum adalah sebilah pedang yang kedua sisinya sama tajam. Tidak tumpul ke atas dan hanya tajam ke bawah.

Disamping itu, Kemenag RI harus bisa menuntaskan kasus ini. Sebab, trust atau kepercayaan terhadap lembaga pelayan umat ini, sedang bagus-bagusnya. Jangan hanya karena noda dari Aceh, kepercayaan itu kembali memudar.

Mau dibawa kemana muka kita, saat lembaga ummat ini telah ternoda. Apa kata dunia, bila kasus ini dibiarkan diam dalam peti es misterius. Hanya jadi buah bibir orang-orang di luar (sana) Aceh, dengan sumpah serapah ke Aceh ku sayang.

Bau busuk akan adanya affair yang melibatkan pejabat lain juga harus bisa diungkap. Sebab sang wanita yang menjadi tumbal dalam kasus penggrebekan ini, sudah bernyanyi nyaring, mengisi telinga di kalangan masyarakat.

Supaya tidak jadi fitnah massal secara nasional. WH harus mampu bijak dan tegas untuk menuntaskan dan menegakan qanun yang jadi kabanggaan masyarakat Aceh. Qanun Jinayah adalah indentitas ke Aceh-an dalam bingkai syariat. Qanun itu juga adalah marwah Aceh dalam tegakan syariat Islam.

Kita berharap, WH adalah penegak hukum syariah yang masih bisa dipercaya. Semoga!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *