Masih ada Warna Hitam, Coklat, Pink dan Lainnya

kerta suara pada Pemilu 2024

DALAM sepekan terakhir ini, jelang hari H pemilihan, 14 Februari 2024, satu pesan berantai lewat whatshapp bagi japri maupun wa grup (WAG), terus mengalir secara sambung bersambung, berkali-kali.

Tidak jelas dari mana sumber aslinya, apalah resmi dari badan penyelenggara Komisi Pemilihan Umum (KPU) atau Bawaslu. Intinya bagus, sebagai pengenalan dan sosialisasi bagi masyarakat untuk mengenal surat suara yang nantinya digunakan saat hari H pencoblosan.

Surat suara itu, baik untuk pemilihan wakil di DPR Kabupaten/Kota, DPR Provinsi, DPR RI, DPD RI maupun Calon Presiden (Capres). Surat suara itu ditandai dengan menggunakan tanda warna sebagai pengenal bagi pemilih agar jangan salah menentukan pilihan nantinya.

Misalnya, surat suara warna hijau untuk kertas suara pemilihan DPR Kabupaten/Kota, warna biru untuk DPR provinsi, warga kuning untuk pemilihan DPR RI, merah untuk DPR RI dan Abu-abu untuk Capres.

Sejauh ini, hal itu masih dinilai pantas. Hanya saja, dalam pesan perantai dari WA dan berbagai media sosial (medsos), ditambah teks dengan kata-kata yang bisa membingungkan para pemilih.

Kalimatnya begini:

5 Warna Kertas Suara Pemilu Serentak 14 Pebruari 2024.  

  1. Hijau: DPRD Kabupaten/Kotamadya
  2. Biru: DPRD Provinsi,
  3. Kuning: DPR RI.
  4. Merah: DPD RI,
  5. Abu Abu: Presiden

Mohon di bantu share, sebagai tambahan pengetahuan.

Semoga bermanfaat.

Terima kasih.

Kalimat yang disertaikan sangat sumir dan bisa menghasilkan multitafsir dan makna dari para pemerima pesan. Bagi pemilih cerdas, bisa saja dia paham maksud dari kalimat tersebut, bahwa warna hanya sebagai tanda.

Bagi pemilih awam, ini sangat mengandung multitafsir, dimana bisa saja mereka menilai dan beranggapan kalau untuk DPR kabupaten/kota harus memilih partai yang warna hijau, DPR provinsi pilih partai warna biru serta DPR RI pilih partai warna kuning.

Baca Juga  16 KK Warga Gunung Pulo Mengungsi Akibat Banjir, Dandim Aceh Barat Langsung Terjun ke Lapangan

Tentu saja ini sangat mengtungkan partai tertentu yang lambang dan warna benderanya berwarna dasar, hijau, biru dan kuning. Lalu bagaimana dengan merah, bisa saja merasa dirugikan, karena merah untuk DPD, bukan untuk partai.

Hanya kertas suara untuk Pilres yang bisa dikatakan tanpa tafsir. Karena abu abu, tidak ada keterwakilan warna partai. Seperti warna kertas suara, untuk Pilres sangat abu-abu, tergantung rakyat mau pilih yang mana dari tiga Capres/Cawapres yang ada.

Sekiranya, pewan singkat di wa, wag dan medsos tersebut, berasal dari pihak resmi, baik KPU atau Bawaslu, kiranya perlu dilakukan penjelasan mendetil lagi. Bahwa warna di kertas suara bukan berarti warna pilihan dari partai tertentu kontestan Pemilu.

Jika perlu, sosialisasi lewat wa, wag dan medsos dengan kalimat seperti tertera di atas bisa dicabut dan dilarang untuk beredar. Karena, hal itu sangat multi tafsir. KPU dan Bawaslu serta pemerintah perlu bekerja ekstra sedikit lagi, guna memberi pencerahan dan pencerdasan bagi masyarakat pemilih, agar jangan salah mengartikan pesan yang dalam minggu-minggu terakhir ini makin massif beredar di tengah masyarakat Indonesia.

Seharusnya, KPU sedari awal juga sudah memikirkan dampak penggunaan warna pada surat suara yang menggunakan warna dominan dari partai tertentu. Bukankan masih ada warna hitam, coklat, pink atau warna lainnya yang tak mencerminkan warna partai tertentu.

Sekiranya, belum terlambat memberi sosialisasi pada masyarakat tentang hal ini. Supaya, sikap integritas netralitas penyelenggara bisa terjaga. Semoga.[Iranda Novandi]

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.