Mas Munawir, Tokoh Muda Brebes yang Mandiri

SIAPA yang tak mau menempuh pendidikan tinggi dengan biaya mandiri. Sosok tokoh muda Brebes, Jawa Tengah yang sedang di cari banyak masyarakat bahkan bahkan kaum muda milenial di Brebes. Dia adalah Muhammad Munawir Lasiyono, Lahir Minggu Pahing, 20 Maret 1988, di Desa Terlangu, Jalan Sultan Agung Brebes.

Tokoh Muda ini, anak ke 8 dari 10 bersaudra. Dari Ayah/Abah, Nuryadin (almarhum). Sang ayah di masa hidupnya dikenal atau biasa dipanggil Kyai NU atau Kyai Nur di Desa Terlangu. Karena banyak orang yang memanggil beliau kyai, untuk meminta pertolongan saat sakit, hajatan, bahkan lahiran.

Jika lebaran, bukan saja kaum muda yang sowan ke beliau. Tapi kebanyakan orang tua yang dating. Karena di pandang ulama, Abah Nuryadin adalah cucu dari seorang Ulama Mbah Amir. Konon katanya dulu sempat dibilang salah satu Sunan. Karena rumahnya kalau hujan tidak bocor, padahal atap rumah banyak yang berlubang.

Ayah Abah Nur adalah H. Aslan dan Ibu nya Hj. Bawon Terlangu. Info masyarakat sekitar beliau adalah orang terkaya di Desa Terlangu di masa itu.

Tokoh Muda ini di lahirkan dari rahim seorang ibu yang tangguh, Ibu Kusyati di Desa Terlangu, Gang Mbah Reksa Jamidin. Konon katanya adalah penyebar agama Islam pertama di Desa Terlangu dari Kerajaan Mataram. Nama jalannya juga Jalan Sultan Agung.

Makam itu banyak yang berziarah mulai dari kalangan bejabat, dari luar daerah. Sempat makam itu mau di bangun layaknya makam-makam 9 Walisongo. Tapi Abah Nur menolak. Saksi sejarah yang sekarang masih hidup adalah Kyai Yusuf. Beliau sekaligus guru Abah Nur, tinggal di Desa Temu Kerep, Kecamatan Larangan.

Ibu Kusyati beliau adalah putri dari seorang polisi yang bernama Suprapto. Semasa hidupnya Suprapto di tugaskan di Pekalongan, dan wafat di Jakarta.

Muhammad Munawir Lasiyono

Tohoh Muda Muhammad Munawir Lasiyono ini menempuh pendidikan di SD Negeri Terlangu 02, Brebes. Ibunya wafat sejak ia kelas 4 SD. Semasa SD, Mas Munawir sambil jualan es mambo, bertani nanam bawang merah, timun dan cabe. Ia juga sering di minta untuk adzan di masjid Desa Terlangu Wetan.

Setelah menempuh pendidikan di MTs Negeri Model Brebes. Ia merantau ke Jakarta, ikut kakaknya Mas Amir. Melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 34 Jakarta Pusat, jurusan Teknik Elektro (Instalasi Listrik).

Baru kelas 1, Abahnya Kyai Nur wafat. Kelas 1 sudah PKL di PT Siemens Indonesia Pulomas. Kelas 2 ia mendapatkan beasiswa penuh dari Hj. Wardjinem dan pernah menjadi Ketua Rois. Kelas 3 mendapatkan beasiswa penuh dari Hj. Rusda. Untuk biayah hidup. Mas Munawir berjualan koran, buruh cuci, tukang panggul pasar. Bahkan dia ngamen di Jalan Rawamangun, dekat dengan kampus IKIP, sekarang menjadi UNJ.

Sebelum ujian nasional mendapat undangan dari Politeknik Universitas Indonesia. Diterima melalui jalur Seleksi Prestasi (PMDK). Di D3, Teknik Elektro, Teknik Listrik, Politeknik Universitas Indonesia (Politeknik Negeri Jakarta).

Beasiswa

Karena satu satunya siswa yang diterima di Poltek UI, jadi harus menerima. Jika tidak akan di coret sekolahnya dari daftar undangan. Allhamdulillah Hj. Rusda yang juga guru matematikanya memberikan beasiswa full untuk kuliah sampai lulus D3.

Mas Munawir juga mendapatkan beasiswa Sumit Cahaya dan Women’s International Club. Ia melanjutkan kembali S1, Teknik Elektro (listrik), di Institut Sains dan Teknologi Nasional. Bahkan sempat di minta menjadi dosen di Universitas Bumiayu.

Akan tetapi ia diminta kuliah lagi, karena masih S1. Akhirnya mendaftar di S2, STTPLN, Manajemen Ketenagalistrikan dan Energi.

Tokoh Muda dari brebes ini menginisiasi Forum Guru Besar dan Dosen Putera Puteri Brebes. Brebes mempunyai 20 profesor dan 239 dosen dari berbagai perguruan tinggi negeri/swasta seluruh nusantara dan di LN menurutnya.

Beliau juga menginisiasi Forum Pengusaha Muda Brebes. Jaringan Pengusaha Muda Brebes di 17 Kecamatan di kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Anggotanya hampir 1.000 anak muda.

Beliau juga menginisiasi dan membuat Yayasan Rumah Cinta Brebes. Yayasan ini dibina langsung Prof Dr Ir Darsono Wisadirana MS, Dr Maufur MPd dan Dr Abdul Aziz MAg.

Di temui terpisah di Brebes, Mas Munawir selalu ingat pesan dan wejangan dari Almarhum Abahnya Kyai Nur.

“Jadi orang, pertama itu harus jujur, ngaji malam, shalat malam. Selalu minta sama Allah, jangan berharap dengan siapapun, bahkan tergantung ke manusia, nanti kecewa. Selalu meminta dan mengadu ke Allah,” ujar Mas Munawir.

Semasa kuliah, ia pernah mengikuti lomba debat, lomba orasi, menjadi juri bisnis plan di kampus IPB, aktif di Teater Pelangi. Sempat mengikuti organisasi Himpunan Mahasiswa Elektro. Menjadi Kadiv Laser di BEM, Sospol. Divisi Aksi, Sekjen Maestro Muda Indonesia dan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).[Putra Sang Fajar]

Facebook Comments
(Visited 29 times, 1 visits today)
121 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *