Cerpen Aji Setiawan: Elegi Masa Lalu

SETIAP waktu di bawah basement FTI UII Jogjakarta, aku dengan Pak Anggodo, Paijo, dan sederet pegawai FTI UII senantiasa hidup berdampingan. Aktivitasku yang seabrek membuatku harus membagi waktu, selain bekerja sebagai penulis yang gajinya hanya pas pasan Rp150.000,- di tahun 1998. Aku terus berkeliling kampus, di empat kabupaten di Jogjakarta.

Apa saja bisa ditulis, dari menyensus kampus, orang diteror, orang demontrasi, sampai seminar, pesta musik dan diskusi di kampus. Rasanya aku ketemu dengan banyak orang, membuka dialog dan ruang bercerita.

Ada sesuatu yang hilang, kekasih yang direbut orang, kuliah berantakan, nilai ancur-ancuran. Yang ada jaringan orang, tentang sebuah cinta humanisme, berselempangkan tali silaturahmi, sebagaimana jaman Wali Songo.

Islam tidak disebarkan dengan perang dan terror, namun cara-cara yang lebih santun, penuh toleran dengan dakwah dan dagang. Setelah belajar tentang bertemunya dengan sesama manusia dari banyak orang. Pagi berangkat, pulang petang.

Cerita didiskusikan setiap pagi melalui rapat proyeksi, Pak Yahya Ombara dengan semangat berkobar memberikan catatan tema dan pertanyaan arah tulisan. Itulah Koran pagi Yogya Pos Kabar Kampus yang diliput sedari pagi hingga petang bahkan terkadang sampai malam hari, terbit sehari kemudian.

Sebagaimana makanan khas daerahku, mendoan. Disajikan saat hangat bahkan panas, jadi langsung bisa santap. Sesekali diteruskan beberapa komentar pendek Pak Teguh Ranusastra dan R Harun. Sederet bangku kosong kembali penuh serasa ruang kuliah, ada Sunu, Wahid Ma’ruf, Yulia, Waluyo dll.

Jauh sebelum aku masuk kantor ini, Emha Ainun Nadjib mengisi rubrik kopi sore Yogya Pos yang racikannya dari kopi, campur jahe, campur merica. Rasanya sangat pedas, menggigit membuat siapa saja ingin membaca lembar demi lembar Yogya Post Sore. Elegi itu aku baca, disaat umurku baru 17 tahun, dimana aku baru sering membaca, jarang bicara.

Aku terkenal diam, dikampuspun aku termasuk orang paling bingung sedunia. Bagaimana tidak, aku masuk di fakultas yang luar biasa pergaulannya, di mana letak kampus terpadu diapit dengan 4 fakultas besar yakni Fakultas Sipil, Psikologi, MIPA dan FTI Sendiri.

Fakultas kedokteran dibuka pada tahun keempat aku kuliah. Aku justru sering keliling dari kampus Fakultas Hukum, Ekonomi, Agama dan Ekonomi. Namun yang paling sering aku sapa di daerah Demangan. Karena aku dulu sering berdiskusi dengan Tatang Setiawan, anak Tasikmalaya.

Seluruh PU LPMF di kampus UII aku kenal, maka tak heran saat Musyawarah Anggota Musang Himmah UII (1998) aku sempat didapuk menjadi wakil pimpinan sidang Musta LPM Himmah UII.

Selain beraktifitas di kampus FTI UII, saya juga menjabat Ketua PWI-Reformasi Jogjakarta, padahal sebelumnya dedengkot JPPR dan PWI R ada Bambang Soen (Republika, mantan ketua PDI Perjuangan Bojonegoro, Masduki Atamimi (LKBN Antara) yang dikenal sebagai ketua Tim Pencari Fakta PWI Yogyakarta yang menangani Kasus Udin Bernas, Arto Naziarto dan Sugiarto (Suara Merdeka), Heri Purwata (Kab Biro Republika-sekarang) jauh sebelum itu sudah lama merumuskan sikap tentang Kasus Udin Bernas.

Aku kemudian menghubungi Gatot Indroyono di LPM Arena Sunan Kalijaga di Jalan Solo atau Jalan Adisucipto.

Selain aku sering mampir di Kopma IAIN Sunan Kalijaga. Aku kemudian dipertemukan dengan Sunu Budi Purwanto yang  kemudian diangkat sebagai Sekretaris Korda. Beberapa sahabat kentalku mulai Kholid Haryono (Sek Dosen Teknik Informatika FTI UII), Shohibul Hidayah (sekarang jadi petinggi wartawan se Indonesia di Banjarmasin).

Ada yang terlupa aku kost di salah satu rumah Dosen IAIN Jogja, yang sampai hari ini saya tidak tahu namanya. Karena saya hanya membayar kost lewat teman yang membawa saya kost. Aneh bin ajaib. Selepas rapat, sekretaris redaksi kantor di bilangan Cemara Tujuh, Mba Ratri Kumaraningsih memanggil ku, untuk mengambil gaji sebulan yang belum diambil.

“Ntar mbak.” Aku langsung memacu cepat motorku kea rah kampus pusat UII di Cik Di Tiro. Kulihat di bangku lincak bambu wulung, segelas teh manis panas yang masih berkebul asap air mendidih segera saja aku hirup. Minuman segar pengisi perutku yang keroncongan sedari pagi. Segar kurasa, kepalaku terasa enteng, Teh Himmah memang beda. Gratis.

Ada banyak teh yang ada diberbagai penjuru Nusantara,mulai Teh Tubruk, Teh  Keroncong, Teh  Geprek, Teh Tarik yang jelas bukan Teh dari Jawa Barat, cewek sunda yang paling dicari-cari, Teh Roris namanya. Namun teh paling nikmat adalah teh serbuk Palembang dan Lampung, khas Rumah Makan Padang. Memang beda.

Pergaulan dunia membuat kita semakin konsumtif. Apa saja pengin kita beli. Sementara harga-harga selangit, pendapatan tidak ada. Besar pasak daripada tiang. Islam mengajarkan Qana’ah. Partai kami yang kabinetnya cuci piring, senantiasa makin mengencangkan ikat pinggang, agar tidak kedodoran. Istilahnya “jarit”, kudu jejer dan irit. Senantiasa bersyukur dengan rezeki Allah SWT.

Apa yang anugrahkan Tuhan dari langit. Mulai semesta langit dan jagad raya, udara segar yang kita hirup, embun pagi yang menyegarkan menguras kotoran udara paru-paru, ebyte-byte jaringan satelit sehingga kita bisa berkomunikasi lewat langit dan planet cukup dengan microchip HP bahkan flash disk. Air segar yang diturunkan langit dan yang memancar dari bumi bisa gratis kita dapatkan. Ini adalah kekayaan yang berlimpah yang harus senantiasa disyukuri.

Alhamdulillahi rabill’alamin.

Nikmat kemerdekan melahirkan kita manusia yang berkarakter suka bekerja keras, pantang menyerah untuk menumbangkan sejarah bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar. Alam berlimpah kekayaan hayati harus terus di rabuk dan ditanam berbagai pohon-pohon dengan beragar senantiasa menghijau.

Lir ilir, tandure wis sumilir, tak ijo royo, nggak dibakarpun, Indonesia akan tetap menghijau dengan gerakan menanam bermilyar pohon. Apa saja bisa ditanam, mulai dari sekarang.

Mumpung masih ada hujan. Bersihkan rumput yang merebut humus pohon–pohon berguna. Rumput biar saja jadi rabuk atau jadi makanan hewan. Jadilah orang yang pandai bersyukur dengan apa? Dengan senantiasa mengucap hamdalah atas segala reziki dan karunia-Nya, dan jauhkan musibah dengan perbanyak istighfar.

Akhir kalam, selamat bekerja di tempat masing-masing sukses selalu untuk sekalian.[]

Aji Setiawan, mantan Ketua PWI Reformasi Korda Yogyakarta 1999-2002. Aktif menulis diberbagai media, termasuk Cerpen.

Facebook Comments
(Visited 42 times, 1 visits today)
150 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *