Cerpen Aji Setiawan: Mabar

Jangkrik dan gemerisik tiupan sunyi angin malam membuatku membalut sarung sambil menghisap sebatang lisong.

Takut. Saya belum pernah mendengar berita hantu. Ini kampus baru. Pak Wajio dan Tugimin Saptam Kampus 14,4 tidak pernah cerita apa-apa.

Kebetulan malam Minggu, segera kutatap jam dinding. Sudah jam 12 malam. Pelan-pelan ku keluar kantor dan berjalan ke depan ruang sidang II. Ketemunya pak Saptam yang bertugas.

Berbagi rokok malam, di tengah cuaca kemarau panjang dan dingin udara malam. Kadang keluar jam satu malam, kulihat Irfan masih berlatih pernafasan di Jembatan Kampus.

Tuh yang sebelah utara di dekat pemancar, ada kuburan dalang wayang kulit. Beberapa anak katanya pernah kesurupan. Pelan-pelan kulangkahkan kaki berwudlu di kran air dekat selokan basement air dingin dan malam sunyi menjadi saksi bisu kegundahanku.

Di rumah Allah sendirian, dengan cahaya terang. Di atas sajadah di bawah lampu terang ku duduk sendiri bersimpuh, doa terpanjat sangat sepi. Waktu belum Subuh, kutengok jam di dinding masih 03.45 WIB. Hal paling asyik adalah baca buku. Semua buku saya baca, kutulis intisarinya dalam buku catatan dan agenda.

Tak terasa, sudah seminggu ini aku hidup di kampus barat. Tak sengaja juga seminggu aku baca Surat Kabar “Kabar Kampus”.

“Lid, kita ngedaftar kerja jadi wartawan yuk!” Ajakku.

“Siapa takut,” jawabnya sambil tergerai senyumnya khas, pipi berlesung pipit dan gigi putih berbaris rapi terkekeh.

“Untuk rumusan paling remeh remeh itu ngedaftar kerja. Aku belum pernah ngelamar kerja,” bukaku padanya.

“Ah gampang. Di LKD HMI ada cara mendaftar kerja,” kata Kholid yang memang saya kenal betul kader HMI.

Perkenalanku dengan Holid memang lama, asli Ponorogo dan alumni Ponpes Gontor, Ponorogo ketika SMP dan PP Assalam,Solo sampai SMA.

Lagu Jamrud, “Sakit Hati” adalah lagu favoritnya. Sayang selepas seminggu kerja, ia kecelakaan motor, nabrak orang. tepat di Utara perempatan Cemoro Tujuh. Dekat RM Bubur Manado. Rupa-rupanya yang ditabrak, pembantu yang punya rumah makan bubur Manado. Motor Deluxe 70 warna kuning, lecet dikit, tapi yang punya motor memar memar.

Selepas itu, ia memutuskan mundur dari KaKa (Kabar Kampus, Yogya Pos). Kulihat tulang kering pada kakinya memar. Awalnya kami bertengkar dengan pemilik warung. Saya yang diajukan sebagai juru bicara Holid, tahu kenapa saya ngotot nggak mau ribet urusan polisi.

Karena kesrempednya lukanya kecil, dan urusan banyak. Dan dua duanya ngaku salah. Jadilah tawaran berdamai karena tabrakan sama sama terluka, jadi biaya pengobatan di tanggung masing masing dan sebagai komitmen berdamai di rumah makan bubur Manado, kita bertiga makan bubur Manado. Uniknya, yang buat bubur Manado yang marah-marah pemilik bubur Manado.

“Apalah ni bubur sama sayur asem dicampur aduk ada jagung manisnya. Tentu beda pedasnya sama Sambelado ,apalah apalah….”

“Sadap nian,” kata pendek.

“Diancokkk,” kata Holid keras. Gerr, seisi warung teepingkal-pingkal.

Tahu nggak di Utara perempatan Cemoro Tujuh ada nasi Kentucky (kon tuku) sebesar kotak snack. Selepas kerja dari Kabar Kampus aku sengaja mampir sebentar beli 2 kotak, Rp4000 (@2000) kadang kutambahi 2 porsi nasi (@Rp500). Lalu kupacu Alfa ku cepat menuju 14,4 takut sudah keduluan pulang.

Nikmatnya itu kalo makan bareng. Tinggal robek tuh kresek, jadi lembaran segi empat. Nasinya ditumplek, makannya bareng bareng. Kadang kulihat sosok berpuasa, sendiri di depan pintu kantor lembaga.

“Den, udah pada pulang, ya?”

Yuk makan bareng. Ia hanya mengangguk pelan. Kantor Yogya Pos memang tutupnya jam 4 sore. Jadi sehabis buka puasa, praktis magriban di musala basement bertiga. Malam makin dingin.[] Aji Setiawan

Facebook Comments
(Visited 27 times, 1 visits today)
93 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *