Mengendus Calon Bupati Aceh Besar di Pilkada?

Kandidat Calon Bupati Aceh Besar dalam Pilkada 2024 versi masyarakat. Diurut sesuai abjad nama.[FOTO: h7 - libang]

Oleh: Dr Usman Lamreueng

PEMILU presiden dan legislatif sudah selesai, biarpun masih belum ada penetapan akhir pemenang Pemilu. Karena masih tahapan pleno di tingkat propinsi. Dinamika politik dan pemilu curang masih terus menjadi isu hangat nasional dan internasional.

Usman Lamreung

Terlepas berbagai dinamika politik seputar hasil pemilu legislatif dan presiden, tidak kalahnya isu dan pembicaraan publik tentang calon kandidat Pilkada di Aceh tersemasuk adalah calon kandidat Bupati di Aceh Besar.

Sudah menjadi hot isu di media, dan warung kopi seputar Aceh Besar menyambut hangat munculnya nama-nama calon kandidat Bupati Aceh Besar pada Pilkada 2024 tinggal beberapa bulan lagi. Adapun nama yang berkembang calon kandidat bupati adalah Musanif, Mukhlis Basyah, Syeck Muharam, Iskandar Ali, Irawan Abdullah, dan lainnya.

Nama-nama tersebut muncul dari pernayataan calon di media, survey di group WhatShaap dan sering dibicarakan diruang publik seputar Aceh Besar.

Beberapa politisi tersebut telah mulai mencuat namanya, namun masih ada malu-malu memberanikan diri untuk menyampaikan secara terbuka. Seperti yang sudah disampaikan oleh Syeck Muharam, yang berkeinginan maju sebagai calon bupati pada kontestasi Pilkada 2024.

Kita mendorong nama-nama tersebut sudah harus berani menyampaikan secara terbuka hasrat dan tujuan politik untuk mencalonkan diri sebagai bupati Aceh Besar. Biarlah ada warna demokrasi di Aceh Besar, semakin banyak kandidat akan semakin baik.

Nantinya dengan harapan akan terpilih salah satu calon kandidat sebagai pemimpin terbaik yang menahkodai pembangunan Aceh Besar saat ini masih tertinggal jauh dari daerah-daerah lain.

Merujuk pada teori modal sebagai relasi sosial dalam sebuah sistem pertukaran, yang mempresentasikan dirinya sebagai sesuatu yang langka, yang kayak dicari dalam bentuk sosial tertentu beragam jenis modal dapat dipertukarkan dengan jenis-jenis modal lainnya.

Baca Juga  Duka Januari

Pertukaran yang paling dramatis adalah pertukaran dalam bentuk simbolik. Sebab, dalam bentuk simbolik inilah, bentuk-bentuk modal yang berbeda dipersepsi dan di kenali sebagai sesuatu yang legitimate.

Pilkada merupakan proses demokrasi secara prosedural dan substansial dengan cara memilih orang/figur dan kemenangan ditentukan oleh perolehan suara terbanyak. Dalam demokrasi semua warga negara memiliki kesempatan yang sama dalam mencalonkan sebagai kepala daerah.

Dengan diberi kebebasan yang cukup besar untuk membentuk organisasi-organisasi politik, menyalurkan aspirasi politiknya, dan ikut kompetisi dalam penempatan jabatan-jabatan publik yang dipilih, tetapi di dalam tataran empiris, kesempatan itu sebenarnya berbeda antara satu dengan orang lain. Karena modal yang dimiliki setiap orang dalam kontestasi Pilkada secara langsung pada kenyataannya berbeda-beda.

Modal utama yang harus dimiliki para calon kandidat yang hendak mengikuti kontestasi di dalam Pilkada, yaitu modal sosial, modal budaya, modal politik dan modal ekonomi. Calon Kandidat kepala daerah itu memiliki peluang besar terpilih manakala memiliki akumulasi lebih dari satu modal, semakin besar pasangan calon yang mampu mengakumulasi empat modal itu, maka semakin berpeluang terpilih sebagai kepala daerah.

Peluang terpilihnya pasangan kandidat merupakan bagian dari proses yang kompleks, maka tidak bisa dikatakan sebagai hasil hanya dari salah satu faktor saja atau modalitas tertentu.

Modal sosial sebagai sumber daya aktual dan potensial yang dimiliki seseorang berasal dari jaringan sosial yang terlembagakan serta berlangsung terus menerus dalam bentuk pengakuan dan perkenalan timbal balik atau dengan kata lain: (keanggotaan dalam kelompok sosial) yang memberikan kepada anggotanya berbagai bentuk dukungan kolektif.

Modal budaya diperoleh individu dengan cara yang terbentuk dan terinternalisasi padanya sejak ia kecil, terutama melalui ajaran orang tuanya dan pengaruh lingkungan keluarganya. Modal Politik, kandidat calon kepala daerah yang dicalonkan oleh partai politik (koalisi partai).

Baca Juga  Ritual Pemamanan Alas, Ketua Demokrat Berkuda

Fungsi Partai  Politik sebagai alat untuk memobilisasi dukungan relatif kecil sehingga kandidat yang ingin memenangkan Pilkada harus sebanyak mungkin memanfaatkan jaringan organisasi-organisasi politik untuk memperoleh dukungan politik karena kompetisi lebih menonjol terhadap pengaruh figur kandidat.

Modal ekonomi memiliki makna penting sebagai “penggerak” dan “pelumas” mesin politik yang dipakai.

Dari pernyataan diatas sudah pasti nama tersebut mereka sudah mempunyai empat modal dasar untuk bisa maju sebagai calon kandidat Bupati Aceh Besar dan elektabilitas. Harus dipahami bahwa pilkada sebagai ajang kompetisi politik mengandung dua dimensi kepentingan, yaitu kepentingan calon bupati dan pasangannya wakil bupati, dan kepentigan rakyat.

Bagi para calon perkara elektabilitas akan menjadi concern utama karena itulah batu loncatan untuk memenangkan kursi bupati sebagai kepala daerah dalam Pilkada. Namun di sisi masyarakat pemilih juga punya kepentingan untuk mendapatkan pemimpin yang kompeten dan visoner yang bisa membawa perubahan bagi kehidupan mereka ke arah yang lebih

Nah ini yang belum kita lihat yang bisa ditunjukkan oleh sosok dan calon kandidat bupati yang selama ini dijagokan akan muncul sebagai calon kandidat bupati dan wakil bupati Aceh Besar pada pilkada 2024. Sepertinya calon kandidat bupati masih mengandalkan vaiabel popularitas, kekuatan mesin politik, dan hasil survey untuk membangun citra elektabilitas.

Sejauh ini kita belum melihat para calon kandidat menyampaikan gagasan dan pemikiran tentang masa depan Aceh Besar lima tahun kedepan, bagaimana dan mau diapakan Aceh Besar lima tahun kedepan?.

Belum ada narasi-narasi kritis pembangunan Aceh Besar. Kita tau hari ini banyak sekali persoalan dan masalah pembangunan Aceh Besar, seperti masih tinggi kemiskinan ekstrim, stanting, masalah reformasi birokrasi, pengangguran, PAD, Pusat Pemerintahan, pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, percepatan pembangunan daerah terluar dan penguatan ekonomi. Berbagai masalah tersebut harus bisa diselesaikan.

Baca Juga  Masih Ada Pejabat Bekinerja Buruk di Aceh Besar

Tentu kandidat calon bupati harus punya gagasan dan konsep menyelesaikan berbagai persoalan tersebut dengan baik, supaya publik bisa melihat dan menilai seperti apa kapasitas intelektual mereka memimpin Aceh Besar menjadi lebih baik ketika mereka menjadi buapti nanti.

Sejauh ini kita tidak melihat karakter politik gagasan dari calon-calon yang muncul diatas. Dalam konteks kebutuhan akan lahirnya pemimpin Aceh Besar yang berkualitas, kompeten, dan visioner, yang menjadi kepentingan rakyat Aceh Besar.

Maka para calon kandidat bupati punya gagasan komprehensif dan sistemik. Ini yang harus ditunjukkan oleh semua calon dengan politik gagasan dan ide-ide perubahan. Meraka sudah harus maju dengan tawaran-tawan program yang konkrit dan visioner bagi integrasi pembangunan Aceh Besar kedepan.

Kalau perlu mendeclare, itu yang akan saya lakukan jika saya jadi bupati Aceh Besar 2024 nanti, kenapa tidak? Itu baru elegan dan berkelas. Kenapa harus malu-malu?[halaman7.com]

Penulis, Akademisi Unaya, Aceh Besar

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.