Jumat, 19 Januari Tragedi 28 Tahun Silam di Aceh

KMP Gurita.[FOTO: h7 - int]

Catatan: Iranda Novandi

HARI ini, tepat Jumat 19 Januari 1996, tragedi terburu moda transportasi laut terjadi. Malam naas dan mencekam itu, di atas KMP Gurita, ratusan penumpang panik. Kapal laut tipe Feri Roll On – Roll Off (Roro) yang memiliki panjang 32,45 meter berlahan di telan lautan.

KM Gurita yang bertolak dari Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar sekitar pukul 18.45 tenggelam antara 5-6 mil laut dari Perairan Teluk Balohan, Kota Sabang. Hingga saat ini misteri penyebab tenggelamnya transportasi laut utama antara Banda Aceh – Sabang saat itu, belum diketahui pasti penyebabnya.

Sama halnya misteri 284 penumpangnya yang juga hingga saat ini dinyatakan hilang, tak ditemukan jasadnya. Mengutip pernyataan Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kota Sabang, Ady Akmal Shiddiq saat mengenang 27 tahun tragedi tenggelamnya KMP Gurita tahun lalu, menyatakan, kejadian itu terjadi tepat 3 hari menjelang bulan Ramadhan

Ady menjelaskan, peristiwa tenggelamnya KMP Gurita pada Jumat malam, di perairan Ujoeng Seuke Sabang. Kapal tersebut bertolak dari Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar pada pukul 18.45 WIB. Menuju Pelabuhan Balohan Sabang yang seharusnya tiba pada pukul 21.00 WIB.

Pada pelayaran tersebut, KMP Gurita membawa penumpang sebanyak 378 orang. Dalam musibah itu, hanya 40 orang yang berhasil diselamatkan. Sedangkan 54 lainnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dunia. Sementara 284 orang lainnya dinyatakan hilang.

Tentu ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga dan pahit bagi pengelola transportasi di Aceh, bahkan Indonesia. Pasalnya, kapal yang memiliki berat 196,08 Ton dengan kapasitas penumpang 210 orang, pada hari naas itu mengangkut penumpang melebihi kapasitas yang dimiliki mencapai 378 orang.

Baca Juga  BP Jamsostek Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran

Dalam kapal buatan 1970 di Bina Simpaku, Tokyo, Jepang, 378 orang penumpang itu bukan saja warga Sabang. Hanya 282 warga Sabang, selebihnya warga luar Sabang termasuk 16 turis asing yang hendak berlibut di pulau paling ujung barat Pulau Sumatera, Indonesia ini.

Over kapasitas ini bukan saja karena banyaknya penumpang yang melebihi kuota normal. Namun juga, disesaki muatan barang yang diperkirakan mencapai 50 ton lebih. Meliputi 10 ton semen, 8 ton bahan bakar, 15 ton tiang beton listrik, bahan sandang-pangan kebutuhan masyarakat Sabang serta 12 kendaraan roda empat dan 16 roda dua.

Mengutip dari laman Wikipedia, di kegelapan malam yang mencekam itu, KM Gurita mengalami gangguan cuaca dan angin kencang dari arah timur. Terjadinya gangguan, ditambah muatan yang melebihi kapasitas, mengakibatkan kapal tersebut menjadi oleng.

Nakhoda tak dapat menguasai kapal yang oleng ke kiri dan ke kanan. Saksi mata mengatakan pada pukul 20.15 Wib, kapal penyeberangan itu masih terlihat dari pelabuhan Balohan. Sanak keluarga yang datang menjemput tak memperkirakan kapal tersebut sedang mengalami gangguan dan tengah berjuang melawan badai. Lampu masih terlihat jelas dari KM Gurita.

Namun sekitar pukul 20.30 Wib, kapal penyeberangan itu sudah tidak terlihat lagi. Sampai saat itu, belum ada satu pun pejabat di pelabuhan Sabang yang menyatakan kapal mengalami musibah. Pencarian terus dilakukan, hubungan dengan kapal terputus. Tak ada tanda-tanda apa pun yang bisa diterima dari kapal feri itu.

Syahril

monumen atau tugu KMP Gurita di Palabuhan Balohan Sabang.[FOTO: h7 – dok iranda novandi]
Kepastian musibah baru diketahui empat jam setelah kejadian, yakni pada saat salah seorang penduduk Pasiran, Kota Bawah Timur, Syahril (22 tahun) penumpang KM Gurita mampu berenang mengarungi lautan dengan ombak yang ganas dan terdampar di Teluk Keuneukai.
Baca Juga  Pak Nova Pulanglah Nampaknya Ada Tamu di Pendopo

Kabar yang dibawa Syahril itulah yang memastikan bahwa KM Gurita tenggelam di dekat teluk Balohan. sejak saat itu, masyarakat di Pelabuhan Sabang, menjadi gelisah. Sebagian masih tetap tabah menanti kedatangan keluarganya, tetapi sebagian lagi mulai mencari daftar penumpang.

Masih dari lama Wikipedia, dari penuturan Syahril yang mengatakan kapal tenggelam itulah, disimpulkan bahwa hasil penyelidikan final Tim Pencari Fakta yang bekerja selama sebulan menyatakan, jumlah penumpang yang ada di KM Gurita ternyata 378 orang. Jumlah orang itu diperoleh setelah seluruh data masuk dari masing-masing daerah.

Dari jumlah itu, terbanyak berasal dari Sabang, mencapai 282 orang dan 16 warga negara asing (WNA). Sebenarnya, sejak beberapa tahun lalu masyarakat di Aceh, khususnya di pulau Sabang, sudah memperkirakan bakal terjadi musibah atas KM Gurita.

Perkiraan itu setelah melihat kondisi feri penyeberangan tersebut yang sering batuk-batuk dan tak layak untuk berlayar lagi. Namun, karena terbatasnya armada angkutan, Ditjen Perhubungan Darat dalam hal ini PT ASDP (Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan) terus mengoperasikan secara reguler kapal tua yang dibuat 1970.

Tersangka

Buntutnya, dari musibah yang menimpa KM Gurita yang dinilai tak terlepas dari kealpaan sejumlah pejabat perhubungan di Aceh. Dari hasil penyelidikan yang dilakukan Polda Aceh kala itu, ada enam pejabat di lingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) Perhubungan Aceh yang dinyatakan resmi sebagai tersangka kasus tenggelamnya KMP Gurita.

Keenam pejabat yang dinyatakan sebagai tersangka tenggelamnya KMP Gurita itu adalah, AK (Kepala Cabang PT ASDP Banda Aceh), Drs Yus (Syahbandar), IH (Kepala Bagian Operasi PT ASDP Banda Aceh) dan tiga pejabat di Bagian Administrator Pelabuhan (Adpel) Malahayati yakni AS,KD dan BMA.

Baca Juga  Kapolri Kembali Ganti Sejumlah Kapolres di Aceh

Hingga kini, bangkai KMP Gurita ini masih terkubur di dasar laut Sabang bersama ratusan jasad yang hilang, raib di telan laut. Meskipun sebelumnya terbetik kabar, bangkai kapai ini akan diangkat, namun hingga kini, hal itu sangat sulit dilakukan.

Cerita kelam masa lalu moda transportasi laut ini, akan terus menjadi kenangan, terutama bagi keluarga para korban, dan masyarakat Aceh secara umum. Tentu kita tak berharap kisah pilu ini akan terulang lagi, sampai kapanpun.

Al-fatihah untuk semua korban.[]

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.